Buy Soma Online Without Prescription

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for March, 2008

Pictures - March 12th, 2008

Ketika Duit Sudah Tidak Meteran Lagi

Majalah Forbes mengeluarkan pengumuman besar: Bill Gates bukan lagi manusia terkaya sedunia. Sekarang dia turun jadi manusia ketiga terkaya sedunia, kabarnya gara-gara harga saham Microsoft terbanting 15% setelah gagal meminang Yahoo. Moralnya? Jangan nembak sembarangan. Ini juga berlaku untuk yang cewek.

Opinion - March 11th, 2008

PSK Eksekutif Emperor’s Club

Hancur sudah karir Gubernur NY Eliot Spitzer, gara-gara memanggil wanita pesanan (atau memesan wanita panggilan ya? whatever!). Tapi yang dipesan Eliot melalui jasa Emperor's Club VIP bukanlah PSK ecek-ecek, karena Kristen dilepas US$ 1000 hingga US$ 5000, permalam. Rugi? Jelas lebih rugi Clinton dan Obama karena mereka kehilangan perhatian publik pada pemilu pendahuluan di Mississipi besok.

Politik - March 8th, 2008

Sapu Bersih Antasari

Soal Jaksa BLBI yang dengan mudahnya tertangkap KPK sedang menerima suap, Ketua KPK Antasari Azhar berkata demikian:
Kalau misalnya Anda punya rumah, lalu kemasukan sampah, apakah yang punya rumah akan membiarkan sampah begitu saja? Karena ini sampah, harus kita sapu dong. Kita bersihkan.
Maka pertanyaan ini diulangi lagi: Bagaimana mungkin membersihkan dengan sapu kotor? Andaikata sapu itu sudah bersih, kotorannya dibuang ke mana? Dan jika masih kotor, jangan-jangan malah yang ikut mengotori rumah itu.

Life - March 7th, 2008

Masker Bu Dokter

Jika tidak bisa melihat wajah seseorang dengan lengkap, maka kita akan mengisinya dengan yang bagus-bagus. Ini bukan hoax. Gue mengalaminya sendiri. Beberapa kali terakhir berkunjung ke dokter kulit dan kelamin, gue mendapati si bu dokter ini memiliki kebiasaan aneh: dia selalu memakai masker mulut hidung. Itu loh, seperti yang biasa dipakai orang Jepang kalau lagi kena flu. Ngapain juga sih dia kok selalu make masker gitu? Ada banyak spekulasi. Pertama. dia nggak tahan bau badan pasien-pasiennya. Kedua, bu dokter ini sebetulnya punya identical-twin. Prakteknya diselang-seling gitu, biar ndak capek, secara kliniknya praktek setiap malam. Tapi matanya bagus loh, not a hottie though, and far from a MILF. Tapi hari Rabu kemarin akhirnya rasa penasaran gue terjawab! Waktu ke rumah sakit tempat bu dokter praktek, gue mendapati dia tanpa masker. And boy! She's ugly without the mask on. Salahkah gue kalau mengisi bagian wajah yang selalu ketutup itu dengan hidung yang mancung dan bibir yang manis? I was just trying to be postitive. Like all those saints, self-heal book writers, and the rest of the world said!

Opinion - March 5th, 2008

Kartu Ad Hominem

Dalam lomba debat, peserta yang melontarkan argumen menyerang pribadi lawannya akan langsung mendapat Kartu Ad Hominem. Mirip seperti pebola yang mendapat kartu merah: untuk selanjutnya dia tidak diperkenankan meneruskan debat dan dinyatakan kalah. Kenapa begitu? Sebab, ad hominem adalah salah satu bentuk logical fallacy. Dan logical fallacy itu salah besar, karena bisa menjebak perdebatan konstruktif menjadi debat kusir penuh retorika. Dan yang paling penting, logical fallacy menghasilkan kesimpulan yang sesat karena tidak disusun dengan logika yang benar. Logical fallacy jenis ad hominem—alias serangan pribadi— adalah argumen yang menyerang pribadi lawan debat, bukan argumennya. Parahnya, walaupun serangan pribadi itu salah, dia sukar dipatahkan. Parahnya lagi, ad hominem dapat dilontarkan sangat frontal, dan dapat juga dikemas sangat halus hingga tidak ada yang menyadarinya. Contoh ad hominem yang lazim:
Si A
FPI merazia hotel2 untuk memberantas perbuatan zinah!
Si B
FPI lagi? Dasar orang-orang munafik.
Salahnya cukup kentara kan? Argumen kedua mengolongkan FPI ke golongan munafik, sehingga perbuatan mereka jadi 'nampak' salah. Padahal, terlepas seseorang itu munafik atau tidak, jika yang dia lakukan benar, maka dia benar. Lagipula kita kan meributkan sah tidaknya ormas merazia hotel dengan alasan moral, bukan FPI munafik atau tidak Contoh lain adalah ketika Megawati mengkritik pemerintahan SBY yang seperti menari poco-poco. Menganggapi komentar itu, juru bicara kepresidenan Andi Malaranggeng menjawab:
"Itu bukan tari poco-poco ... tapi saya senang juga dengan pengandaian Ibu Mega karena poco-poco tarian asli dari Sulawesi"
Ini jawaban yang bener-bener bikin saya geli. Bukan karena tidak suka Mega, tapi karena tangkisan Andi yang begitu maut tanpa terlihat galak. Bagi saya ini sudah termasuk ad hominem, karena secara tidak langsung Andi merendahkan keseriusan kritik Megawati, sehingga Mega nampak konyol dan argumennya tidak sahih. Padahal, bisa jadi kan SBY dan tim-nya memang poco-poco? Ada banyak contoh ad hominem, tapi komen-komen di blog saya kayaknya juga ada beberapa, termasuk juga *mungkin* di postingan-postingannya blog ini. Semoga tidak. Amin. Satu hal yang pasti, bangsa ini baru akan maju jika sudah terbiasa berdiskusi secara konstruktif, termasuk juga bebas dalam kesalahan berargumentasi. Sampai ketemu di postingan lain soal logical fallacy, ya Bu?

Politik - March 3rd, 2008

Lelucon Bantuan Likudasi

Konon sebuah lelucon itu terdiri dari dua bagian, yaitu colekan dan tendangan. Colekan biasanya cuma fakta biasa yang nggak lucu, tapi setelah dikasih tendangan, maka lengkaplah lelucon itu hingga membikin terpingkal-pingkal yang mendengarnya. Soal kejaksaan yang dengan pedenya menyatakan kalau kasus BLBI BCA dan BDNI tidak terbukti ada perbuatan melawan hukum, ya itu memang cuma colekan. Ketika esoknya seorang jaksa tertangkap basah sedang menerima suap sebesar Rp 6,1 miliar untuk kasus BLBI—maka lengkap sudah tendangannya. Tinggal penonton, anda, menentukan lelucon ini lucu atau tidak?

Politik - March 2nd, 2008

Bagian 2 Kursi Gubernur Sri Sultan

Ini adalah lajutan dari posting sebelumnya.
Jika 400 tahun yang lalu bangsa Eropa mulai menuntut monarki membagi kekuasaannya, saat ini kita menyaksikan rakyat Jogja menuntut Sri Sultan dan keturunannya agar tetap berkuasa selamanya.
Sebetulnya apa yang dijanjikan oleh seorang darah biru? Apakah sikap dan kebijaksaannya selalu lebih mulia? Setahu saya, Sultan HB II selalu disibukkan dengan intrik-intrik politik dalam kraton. Malah sejak perang Diponegoro usai, Kasultanan selalu mengembik ke Belanda, sambil terus menerima pundi-pundi upeti. Di lain sisi kita juga punya nasionalis tulen seperti Sultan HB IX yang mencintai rakyatnya. Tidak konsisten? Satu hal yang pasti, pemimpin ningrat ternyata tidak lebih menjanjikan dibanding pemimpin yang dipilih langsung melalui pemilihan.
Lalu apa yang membuat lurah-lurah itu berdemo membela Sultan? Apakah cinta, atau uang? Iphan bilang itu karena sudah tradisi. Mungkin. Kita memang punya tradisi memaklumi pemimpin payah sambil bermimpi bahwa segalanya akan baik-baik saja. Tidak salah kalau Indonesia dijajah selama 3 abad dan 32 tahun.
Begini, saya tidak menyalahkan tradisi, walaupun berharap tradisi bisa berubah itu sah. Rumitnya, berharap tanpa bertindak hanyalah nama lain untuk kenihilan. Tapi jangan kuatir, saat ini Jogja sedang menyaksikan tongkat untuk bertindak di depan hidung mereka. Mau diambil atau pass dulu?