« Baca bagian satu.

Di Minggu pagi yang tenang itu, hamparan ilalang harus terusik oleh langkah kaki seorang wanita yang berjalan menuju sebuah sumur. Apa yang ditunggu Anita sudah ada di sana: sebuah amplop kotor yang duduk rapih di dekat sumur. Baunya tanah.

Amplop itu ia raih. Ada secarik kertas putih di dalamnya.

“UANG DAN HARTA?
INIKAH YANG MEMBUAT KALIAN TERCERAI BERAI?
ADA-ADA SAJA.

OMONG-OMONG, MAKANAN ORANG BUMI SEPERTI APA?”

Membaca pesan itu, Anita seperti mau geli.

Dia memutuskan akan memasak tempe goreng, sayur lodeh, dan sambal terasi. Berarti dia harus segera mandi dan ke pasar sebelum tempe habis dibeli orang.

···

Maghrib sebentar lagi. Sayur lodeh ditaruh di rantang bawah, nasi di rantang tengah. Lalu di rantang paling atas, Anita menaruh lima buah tempe dan sambal, kemudian menutup rantang kuat-kuat. Bau harum santan dan bumbu-bumbuan berhambur dengan aroma hangat nasi pulen.

Di kamar tidurnya, Murtaji masih terlelap. Tadi malam dia pulang pagi setelah semalaman minum-minum. Dengkurannya keras.

Sambil menenteng rantang di tangan kiri, dan tali di tangan kanan, Anita menyusup ke ladang ilalang dan menghampiri sumur kering yang setahu dia adalah tempat para alien bertandang. Dari langgar yang jauh terdengar suara adzan, yang bagi Anita lebih sunyi daripada degupan jantungnya.

Sesampainya di sumur, dia ikat pegangan rantang kuat-kuat dan ketika rantang itu hendak diturunkan sebuah cengkraman kuat menghampiri pundak Anita dan menariknya ke belakang hingga jatuh. Sayur lodeh tumpah di tanah.

“NGAPAIN KAMU? KAMU PUNYA PACAR BARU YA!?” ujar Murtaji. Matanya bengis.

“enggak mas,” kata Anita.

“BOHONG! Koranku hilang! Uangku hilang! Sekarang kau selundupkan makanan ke dalam sumur. Siapa yang bersembunyi di sana?”

“nggak ada mas…” isak Anita.

“DASAR PEREK! NGAKUUU!”

Suara ‘plak!’ yang perih berhambur di udara ketika Murtaji menampar istrinya. Anita terisak lirih. Lodeh sudah tumpah dan pertanyaan alien tidak akan terjawab lagi untuk selamanya.

Murtaji menengok ke dalam sumur dan menemukan sederet tangga besi yang dipasang di dinding sumur, dulu biasanya dipakai petugas mengecek sumur. Maka dengan pongahnya Murtaji masuk ke sumur dan turun menggunakan tangga-tangga besi. Sambil turun ke bawah, mulutnya mengeluarkan sumpah-sumpahan semacam ‘ANJING!’… dan ‘BABI!’

Anita tahu betul, ketika suaminya naik darah tidak ada tindakan yang lebih baik selain diam. Dia pulang kembali ke rumah dan menata hati supaya bisa melupakan proyek kecil yang ia lakoni.

Suara Murtaji kadang terdengar dari kamar tidur, tempat Anita tidur terlentang menatap langit-langit sambil menata hati kalutnya hingga akhirnya terlelap.

···

Anita bangun lagi pukul 8 malam. Dipanggilnya nama si suami berkali-kali, tapi percuma, karena satu-satunya jawaban hanya pantulan suaranya sendiri. Tidak ada satu lampu rumah yang menyala, seolah ada yang lupa menyalakan sebelum Maghrib. Diraihnya senter di atas rak lalu Anita menelusuri kegelapan sambil—satu demi satu—menyalakan lampu rumah. Sesekali ia memanggil lagi nama suaminya.

Jantungnya lewat satu denyut ketika menyadari pintu depan masih terbuka. Dengan gerakan takut-takut Anita berjalan keluar, mengawasi kegelapan, hingga perhatiannya tertuju pada sumur kering di ujung ladang ilalang. Disana semua ini bermula!—maka Anita mulai menerobos embun di rerumputan dingin yang kini tidak lagi permai dalam gelapnya malam.

Di dekat sumur tidak ada siapa-siapa. Hanya rantang nasi dan lodeh yang tadi sudah tumpah, serta sehelai kertas putih yang duduk manis tak tertiup tarian angin. Diraihnya kertas itu, dan dibacanya pelan-pelan:

“WAH MAKANAN BUMI ENAK SEKALI

TERIMA KASIH

ALIEN GASTRONOMO”

Cerita berdasar dari cerita yang saya ndak tau dari mana. Ilustrasi pinjam dari sini.
Kisah Penunggu Baru Sumur Tua, bagian 2
Tagged on:

29 thoughts on “Kisah Penunggu Baru Sumur Tua, bagian 2

  • February 18, 2008 at 10:43 pm
    Permalink

    harah ….. mo bilang seorang istri membunuh suaminya aja pake muter-muter make nama alien segala.

    btw, ini cerita horor apa cerita komedi?

    .::he509x™::.

    Reply
  • February 18, 2008 at 10:44 pm
    Permalink

    loh …. pertamax? tumben *garuk²*

    .::he509x™::.

    Reply
  • February 18, 2008 at 10:45 pm
    Permalink

    sekali lagi yah, biar ganjil.

    .::he509x™::.

    Reply
  • February 18, 2008 at 10:45 pm
    Permalink

    Kok aku ngakak yeh, tapi kesannya horror… :lol:

    Reply
  • February 18, 2008 at 11:22 pm
    Permalink

    penuh pesan moral. kalo di kembangin mungkin bisa jadi pilem komedi.

    Reply
  • February 19, 2008 at 7:38 am
    Permalink

    Lanjutannya dunk…
    ga enak bgt neh nanggung begini :P
    salam kenal btw yak…

    Reply
  • February 19, 2008 at 8:06 am
    Permalink

    Mbak melody yang baik, itu sudah tamat :)

    Salam kenal juga :D

    manongan
    harah ….. mo bilang seorang istri membunuh suaminya aja pake muter-muter make nama alien segala.
    ya mungkin dia capek wira-wiri rumah-sumur

    otakiphan
    kalo di kembangin mungkin bisa jadi pilem komedi.
    boleh. kamu mau memerankan suaminya yang bengis dan pongah?

    mercuryfalling
    hehehhehe bisa jadi ilham nih
    buat yg pengen kawin lagi
    Ingat Iki mbak! :p

    Reply
  • February 19, 2008 at 9:49 am
    Permalink

    wealah… lebih bagus lagi kalo si suami dimuntahin lagi sama si alien dalam kondisi mati tapi tulang dan dagingnya dah remuk tercabik-cabik dikunyah si alien. >:)

    nice story bro ;)

    Reply
  • February 19, 2008 at 11:25 am
    Permalink

    Aku gak suka endingnya..

    Nanti klo alien itu balik ke planetnya trus bilang sama semua alien disana klo makanan manusia bumi adalah manusia bumi laennya gimana????

    Ini harus diluruskan. Kirim herman ke sumur planet itu!!!

    Reply
  • February 19, 2008 at 12:37 pm
    Permalink

    kemarin ngga mudeng sama ceritanya..
    eh ternyata seperti itu. . .

    moral ceritanya apa nich?
    modus untuk membunuh suami versi baru ??
    atau jangan turun ke sumur tua ?

    Reply
  • February 19, 2008 at 12:46 pm
    Permalink

    hehehe…ternyata gini endingnya yak? hah, kupikir lebih heroik daripada ini.
    mmmm…apa semua perempuan korban kekerasan rumah tangga harus nunggu alien dulu untuk menyelamatkannya? kasian sekali.

    kenapa sih, gw harus selalu serius gini nanggepin postingan? kalo didongengin ma “dia” juga selalu gini, berakhir dengan perdebatan. dongeng kok didebat yak? :p

    Reply
  • February 19, 2008 at 12:58 pm
    Permalink

    dinautami
    Nanti klo alien itu balik ke planetnya trus bilang sama semua alien disana klo makanan manusia bumi adalah manusia bumi laennya gimana????
    oleh karena itu kita tidak boleh gampang percaya dengan alien

    funkshit
    moral ceritanya apa nich?
    Jangan membuang sampah di sumur

    yati
    hehehe…ternyata gini endingnya yak? hah, kupikir lebih heroik daripada ini.
    Kurasa Anita yang diam-diam mengkhianati suaminya (dengan proyeknya) itu tidak cuma heroik tapi juga cerdik.

    Reply
  • February 19, 2008 at 2:06 pm
    Permalink

    klop!!
    dari budaya suka berperang, budaya serakah, hingga budaya memakan sesama manusia..

    emang gitu kok …
    ntar kalo ada alien dateng nanya2 ke aku, tak kirim link blogmu aja Mon… :D

    Reply
  • February 19, 2008 at 2:32 pm
    Permalink

    tak menyangka… dendam itu bisa melahirkan pembunuhan kejam. :)

    Reply
  • February 19, 2008 at 4:08 pm
    Permalink

    planet gastronomi galaksi apa mas?

    Reply
  • February 19, 2008 at 5:48 pm
    Permalink

    jadi sang istri bahagia karena suaminya sudah tiada? kalau begitu lepas sudah penderitaannya.

    Reply
  • February 19, 2008 at 7:59 pm
    Permalink

    ^
    ^
    ^
    namanya sama kayak yg punya

    Reply
  • February 20, 2008 at 8:06 am
    Permalink

    Cerita yang bagus, dan diksi (pilihan kata-kata)nya cerdas dan indah

    …sampai kemudian Kaserse Udin melakukan rekonstruksi ulang dan interogasi…

    Ketika rantang itu hampir diturunkan (lihat penggunaan kata ember dikerek turun pada bagian pertama), seharusnya rantang itu jatuh ke dalam sumur.
    Setidak-tidaknya yang tumpah adalah tempe dan sambal di rantang paling atas, karena biasanya rantang begitu tutupnya sudah “klik”, bagian paling bawah pasti lebih aman.

    Kedua, biasanya sumur yang ada kerek, sudah dilengkapi fasilitas tali dan ember, sehingga Anita tidak perlu mengambil ember dan tali dari garasi…(entah kalo argumentasinya sumur itu sudah tua dan kering)

    Kaserse Udin pasti akan memeriksakan Anita ke Dokter Monica berkat cerita karangan/delusi pembunuhan suaminya ini

    Wakakakaka

    Reply
  • February 20, 2008 at 9:06 am
    Permalink

    tidak saya baca lengkap ceritanya apalagi membaca bagian pertama, tapi saya pengen mengusili kamu dengan pertanyaan seenak pusar saya :p

    Di kalimat “Amplop itu ia raih. Ada secarik kertas putih di dalamnya.”, kenapa mas Momon meninggalkan banyak detil? Misalnya bagaimana ia meraih, posisi amplop di sumur, tekstur amplop, dll. Apakah mas Momon sengaja meninggalkan visualisasi ini kepada pembaca. Mengingat amplop ini tampaknya penting, apakah tidak maslah bagi mas momon kalau pembaca membuat visualisasi yang melenceng dari deskripsi mas Momon. Misalnya, amplop berwarna merah jambu dengan motif bunga-bunga plus ditempeli perangko seribu rupiah dua lembar :D

    Kemudian satu lagi, amplopnya memang bau banget ya Mon kok sebelum udah terbaui sebelum amplop diraih? :p

    [kabur naek ojek]

    Reply
  • February 20, 2008 at 10:08 am
    Permalink

    Kog aliennya bisa tau bahasa manusia sih mas?

    Reply
  • February 20, 2008 at 1:17 pm
    Permalink

    Klo ceritanya sudah habis harusnya judulnya begini “Kisah Penunggu Baru Sumur Tua, bagian 2 – SELESAI” gitu loh. Biar saya ga ngarep lanjutannya :P
    Saya membayangkan endingnya begini: Jiwa si Alien menjelma pada tubuh suaminya sehingga dia menjadi suami yg lebih ok (sempurna?) dari sebelumnya dan si istri jadi dilema antara jatuh cinta pada suaminya dan meneruskan misinya ke sumur tua karena dia ga tau bahwa si alien udah masuk ke tubuh suaminya.
    Duh..begini deh klo kebanyakan nonton kuis huehhehe….

    Reply
  • February 20, 2008 at 4:13 pm
    Permalink

    “funkshit
    moral ceritanya apa nich?
    Jangan membuang sampah di sumur”

    oo.. gitu mon*spid riding*

    Reply
  • February 21, 2008 at 2:48 am
    Permalink

    udah masukin jadi script skenario blum?
    :D

    Reply
  • February 23, 2008 at 7:40 pm
    Permalink

    kok aku gak ngerti ya… :D

    Reply
  • February 25, 2008 at 2:28 pm
    Permalink

    bingung mode on

    Reply
  • February 26, 2008 at 12:47 am
    Permalink

    Hiiiiiiii ngeriiiii………. :)

    Reply
  • Pingback:Kisah Penunggu Baru Sumur Tua - Misc - hermansaksono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.