hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for February, 2008

Politik - February 28th, 2008

Kursi Gubernur Sri Sultan


Entah sudah ada berapa ribu puisi, prosa, novel—film?—untuk berkata kalau kursi dan kekuasaan adalah narkotika. Dalam Animal Farm, George Orwell bertutur tentang sebuah cita-cita tentang ‘negara’ sempurna yang harus pupus karena dikhianati oleh pemimpinnya sendiri. Dumbledore, guru spiritual Harry Potter, memilih untuk menjadi profesor sekolah sihir Hogwarts, bukan menteri, karena kursi kekuasaan adalah godaan yang terlalu berbahaya.

Oleh karena itu sebuah kursi harus dibatasi, baik seberapa lama maupun seberapa luas dia boleh diduduki. Di pertengahan 1600-an Raja Charles I dari Inggris harus mengalah pada ujung pisau pancung karena kekeuh tidak mau berbagi kursi dengan parlemen rakyat Inggris. Demikian juga monarki Perancis yang runtuh di tangan kaum paria karena sofanya terlampau absolut.

Yang kita saksikan saat ini di Jogja adalah kebalikan dari situasi negara-negara itu 400 tahun yang lalu. Rakyat justru unjuk rasa ke DPRD menuntut agar Sri Sultan (dan keturunannya) duduk sebagai Gubernur Jogja untuk selama-lamannya.

Uncategorized - February 27th, 2008

Suara Jangkrik


Bagaimana jangkrik berbunyi? Kriik kriiik kriik? Chirping?

Apapun itu, bunyi jangkrik memekakkan telinga. Saya benci suara jangkrik, walaupun saya tidak benci jangkrik. Orang kota yang bilang kalau orang desa harus menghargai keindahan suara jangkrik itu perlu ditapok pake guling.

Orang desa kan ya punya hak untuk tidak mendengarkan suara jangkrik yang bising, berhak mendapatkan sanitasi yang layak, berhak mendapatkan fasilitas umum yang handal, berhak makan yang berkualitas.

Kemudian sabda kota turun ke bumi: solusi itu harus tepat guna, bising mobil ya di kota, bising jangkrik ya di desa. Tapi apa lantas orang desa tiap hari harus naik kuda? Ya harus!

Uncategorized - February 25th, 2008

E dan Aljazeera

Jika anda sedang nangkring di kamar hotel atau rumah yang langganan televisi satelit, coba tilik saluran E Entertainment. Saluran yang khusus meliput keglamoran Hollywood non-stop menampilkan sosok-sosok keren dan juwita dalam pendaran cahaya kemahsyuran.

Sajian semacam ini membuat tertekan. Sederhana saja, orang macam saya ini tidak akan pernah sekeren mereka apalagi berjodoh dengan Anne Hathway ataupun Catherine Heigl. Saya berhak atas setiap potong rasa iri, tertekan, dan minder.

Kemudian—demi tayangan yang lebih nyata dan membumi—pindah saluran ke Al-Jazeera, hingga layar kaca ganti mempertontonkan bom bunuh diri di Pakistan dan konflik di perbatasan Irak-Turki. Kemudian, gambar-gambar keji ini beralih ke pemadangan penduduk yang hidup tak layak akibat konflik yang tidak pernah berhenti. Padahal, bisa jadi para penduduk ini tidak ingin macam-macam. Jangankan demokrasi; siang hari yang tenteram dan perut yang tidak terlalu lapar, mungkin lebih dari cukup.

Maka muncul kebingungan dan kesedihan, kenapa keinginan sekecil itu seperti sesuatu yang mustahil.

Saya tidak mempermasalahkan kontras keduanya yang demikian menyala, melainkan rasa tidak enak, baik ketika menonton E ataupun Aljazeera. Apa gunanya televisi jika terus menerus membuat hati iri, susah, dan tidak tenang? Mungkin juga, hak untuk tenteram adalah sesuatu yang dilebih-lebihkan.

Misc - February 24th, 2008

Wiki CahAndong


Coba baca sekilas Wiki Cahandong (kalau belum pernah). Disana, segalanya yang pernah dibahas di komunitas CahAndong direkam dan diseberluaskan. Isinya sudah lumayan lengkap, walaupun jauh dari sempurna. Ada yang tahu arti ndoyok, nggudani, total kerusakan, menjura, atau arabik oriental? Semua dijelaskan di situ. Bahkan ada daftar pisuhan lokal yang hingga saat ini masih terus menerus disempurnakan.

Walaupun baru diluncurkan halus kurang dari sebulan yang lalu, ternyata Wiki CahAndong sudah menggondol prestasi. Posisinya di Google, juga sudah lumayan. Sebagai contoh, kalau searching Jun Natsukawa atau Nana Chunk, result dari wiki CahAndong nangkring lebih tinggi daripada Wikipedia!

Beberapa hari terakhir validitas Wiki ini juga meningkat karena sudah dilink Wikipedia untuk artikel Cinta Laura. Sebuah presasi yang cukup membanggakan, atau bisa dikata memalukan.

Yang jelas, dari Wiki memang muncul sebuah kesepakatan baru. Selain bertujuan menjadi kolam pengetahuan tentang segalanya yang terjadi di komunitas CahAndong, wiki ini juga dapat menjadi pusat tautan. Blog-blog yang sudah nyeleb semacam Anangku, Ndoro kakung, Mbilung, Paman Tyo, dan Venus cukup dilink ke artikel wikinya sahaja, bukan ke situs blog yang bersangkutan. Tujuannya untuk mengurangi inlink ke seleblog bersangkutan demi menciptakan keadilan sosial bagi rakyat blogosfir. Ini yang disebut sosialis demokratis.

Bagi saya ini sama sekali bukan kerjaan orang kurang kerjaan. Terlepas dibilang lucu, dan lucu butuh effort, dan effort butuh waktu; pada kenyataannya mereka bisa begini karena tinggal di Jogja. Alih-alih waktu habis di jalan yang macet, waktu bisa dihabiskan untuk mengerjakan hal-hal penting, hingga masih tersisa cukup waktu untuk mengerjakan hal yang tidak penting.

Seperti mengisi wiki.

Misc - February 18th, 2008

Kisah Penunggu Baru Sumur Tua, bagian 2

« Baca bagian satu.

Di Minggu pagi yang tenang itu, hamparan ilalang harus terusik oleh langkah kaki seorang wanita yang berjalan menuju sebuah sumur. Apa yang ditunggu Anita sudah ada di sana: sebuah amplop kotor yang duduk rapih di dekat sumur. Baunya tanah.

Amplop itu ia raih. Ada secarik kertas putih di dalamnya.

“UANG DAN HARTA?
INIKAH YANG MEMBUAT KALIAN TERCERAI BERAI?
ADA-ADA SAJA.

OMONG-OMONG, MAKANAN ORANG BUMI SEPERTI APA?”

Membaca pesan itu, Anita seperti mau geli.

Dia memutuskan akan memasak tempe goreng, sayur lodeh, dan sambal terasi. Berarti dia harus segera mandi dan ke pasar sebelum tempe habis dibeli orang. Continue reading …

Misc - February 17th, 2008

Kisah Penunggu Baru Sumur Tua


Langkah kaki Anita menyibak pelan debu tipis di pekarangan rumahnya. Suaminya, masih di ujung kamar makan, menggosok senjata tajam koleksinya. Badik, tapi bagi Anita cuma senjata tak berguna.

Tapi itu tidak penting: ketakutan bertahun-tahun kepada suami dan kerinduan dinamika kota, sejenak terusik oleh sebuah kertas putih yang menari-nari di ujung jauh kebun ilalang permai. Kertas itu masih menari dengan angin hingga akhirnya Anita mendekat ke sumur kering dan menangkap tarian sang kertas. Ada tulisan di kertas itu.

“KAMI ALIEN PLANET GASTRONOMO.
KAMI INGIN MENGENAL BUDAYAMU.
KIRIM KE SUMUR”

Continue reading …