Konon orang Jawa kuno itu tidak mengenal istilah ‘biru’ untuk menyebut sesuatu yang berwarna seperti langit atau laut. Sebagai gantinya dipakai istilah ‘ijo’ untuk biru dan hijau. Artinya, partainya Amien Rais itu ‘wernoné ijo’.

Ini beneran. Temen saya menemui ketidakwajaran ini ketika mengunjungi desa-desa pelosok yang masih jauh dari peradaban modern. Orang-orang desa rupanya tidak kenal ‘biru’, karena biru itu ‘ijo’. Saya curiga kalau istilah ‘biru’ di Bahasa Jawa sebetulanya merupakan serapan dari Bahasa Melayu. Untunglah suku Jawa tidak sendirian, karena orang Thailand dan Vietnam juga begitu.

Masalahnya jadi agak rumit kalau kita mencermati Perjanjian Gianti pada tahun 1755 ketika kerajaan Mataram dibagi dua menjadi Kasunanan Solo dan Kasultanan Yogyakarta. Setelah perjanjian itu, Pangeran Mangkubumi mulai membangun kratonnya. Supaya tidak sama dengan kraton Solo yang ciri khas-nya biru, Kasultanan Yogya memilih warna hijau. Lantasss… bagaimana bisa orang jaman dulu membedakan warna Solo dan warna Yogya, kalau kedua-duanya disebut ‘ijo’?

‘Bagaimana pula dengan Buto Ijo?’, tanya Tomas. Jangan-jangan julukan itu maksudnya makhluk besar yang kebiruan. Kebiruan karena pucat akibat anemia. Emang buto bisa anemia? Bisa aja kalau lima organ tubuhnya sudah tidak berfungsi.

Orang Jawa Tidak Kenal Biru
Tagged on:     

58 thoughts on “Orang Jawa Tidak Kenal Biru

  • January 17, 2008 at 8:59 am
    Permalink

    oh iya yah.. buto ijo bisa jadi benere buto biru :D

    Reply
  • January 17, 2008 at 9:38 am
    Permalink

    memang, di masyarakat jawa tdk mengenal biru rupanya :D

    Reply
  • January 17, 2008 at 9:46 am
    Permalink

    Lha kamu sendiri sebagai orang jawa, kenal warna biru ga, Mon? :P

    Reply
  • January 17, 2008 at 11:19 am
    Permalink

    saya pernah protes ke guru TK saya karena beliau menyebut warna langit itu hijau. Hehe.. Tapi beliau ngotot dengan pendiriannya.
    Sekarang jadi ngingat2. Guru saya itu orang jawa ga ya?

    Reply
  • January 17, 2008 at 11:20 am
    Permalink

    cmiiw, kalo orang Madura justru kebalik untuk warna ijo dan biru. Biru itu berarti ijo. Dan Ijo berarti Biru .. ho ho.. this odd world :P

    Reply
  • January 17, 2008 at 11:29 am
    Permalink

    Jiewa
    cmiiw, kalo orang Madura justru kebalik untuk warna ijo dan biru. Biru itu berarti ijo. Dan Ijo berarti Biru .. ho ho.. this odd world :P
    Puseeenngg! :)) :))

    Hedi
    Lha kamu sendiri sebagai orang jawa, kenal warna biru ga, Mon? :P
    Wah, nak muda jaman sekarang udah gak pake istilah ‘biru’ lagi :P

    Brahmasta
    saya pernah protes ke guru TK saya karena beliau menyebut warna langit itu hijau. Hehe.. Tapi beliau ngotot dengan pendiriannya.
    Sekarang jadi ngingat2. Guru saya itu orang jawa ga ya?
    Yang jelas guru TK-nya ndeso :P

    Mbilung
    ijo langit dan ijo godong
    begitu juga boleh :P

    Reply
  • January 17, 2008 at 1:27 pm
    Permalink

    Berarti orang Jawa jaman dulu juga gak kenal dengan istilah Darah Biru ya mas? Tapi kalo di sinetron-sinetron jaman dulu itu kok sering pake istilah Darah Biru ya?

    Reply
  • January 17, 2008 at 2:06 pm
    Permalink

    di kota bondowoso (yg mayoritas madura). Hijau dan biru muncul berkebalikan,tp mereka bisa membenarkan lagi kok,stlh dtanya lagi. Ini berarti,memang ada satu masa bawaan nenek moyang terdahulu. G tau itu kpn sampe kpnnya.

    Reply
  • January 17, 2008 at 2:45 pm
    Permalink

    berarti jaman dulu adanya “kolor biru” … sekarang bertransisi menjelma “kolor ijo”, gitu?

    Reply
  • January 17, 2008 at 3:25 pm
    Permalink

    Hemm kalo ijo royo royo itu apa lagi yah? soalnya nyokap seneng bgt ngomong itu…

    Tambahan lagi, kalo semua daging disebut “iwak” (ikan red bukan sang rapper), as in: “hari ini ada iwak apa di rumah?” iwak ikan atau iwak ayam?

    Reply
  • January 17, 2008 at 4:52 pm
    Permalink

    Kalo kolor ijo juga aslinya biru? trus kepercayaan yang bilang kalo ke Parangtritis jangan pake ijo, juga artinya jangan pake biru?Uhhhh..bingung..

    Reply
  • January 17, 2008 at 7:27 pm
    Permalink

    hohohoho….benul sangadh itu! mbah saia aja waktu nyuruh saia ngambil termos warna biru, dibilang “sing ijo kuwi”
    .

    Reply
  • January 17, 2008 at 7:28 pm
    Permalink

    sama mon di tempat tinggalku sekarang orang juga gak bisa bedain ijo sama biru… pusing! btw, kalau dalam bahasa inggris ada istilah “grue”, dalam bahasa indonesia istilahnya apa? “iru”? “bijo”? atau mungkin “ijru”?

    Reply
  • January 17, 2008 at 7:32 pm
    Permalink

    haqhaqhaq….! *mengingatkanku pada satu cerita :d

    Reply
  • January 17, 2008 at 8:25 pm
    Permalink

    malahan prnh dgr gw pas gw pulang kampung kalo ungu=abu-abu

    Reply
  • January 17, 2008 at 10:49 pm
    Permalink

    setahuku madura juga begitu, tidak mengenal warna biru

    Reply
  • January 18, 2008 at 9:27 am
    Permalink

    Eh,bukan orang jawa aja lagi.
    nyokap gw juga selalu menyebut biru dengan ijo and nyokap gw padang tulen. Dan kalo gw bilang nyokap buta warna, dia ngamuk-ngamuk (ya iyalah!).
    Mungkin ini bisa ditelusuri lewat sejarah berdirinya bangsa Indonesia.

    Reply
  • January 18, 2008 at 1:08 pm
    Permalink

    la emang, bapak saya berdarah madura dan dia gak kenal warna biru kayaknya, adanya cuma ijo de’un*baca dengan cengkok madura*

    apa kebalik ya? lupa gw, pokoknya belionya itu gak kenal salah satu warna itu kok:p

    Reply
  • January 18, 2008 at 3:26 pm
    Permalink

    waduh..brarti aku salah ngasih judul bajigur#3 ya (www.bajigurkreatif.blogspot.com).. seharusnya biru royo royo (kan biar kayak manusia kontemporer) hehe
    // skalian numpang promosi bajigur mas mon

    Reply
  • January 19, 2008 at 10:33 am
    Permalink

    Jadi kesimpulané opo iki? :P

    Indra triwahyudy said…
    waduh..brarti aku salah ngasih judul bajigur#3 ya (www.bajigurkreatif.blogspot.com).. seharusnya biru royo royo (kan biar kayak manusia kontemporer) hehe

    Harusnya ya tetep ijo royo-royo, tapi gambare warna biru :P

    Reply
  • January 19, 2008 at 2:43 pm
    Permalink

    hmmm … paham sekarang kalo ada yang bilang mau nonton film ijo…

    Reply
  • January 22, 2008 at 8:00 am
    Permalink

    Waks, cukup nyentrik ya?
    Kebo ijo?
    Paijo?

    Pacarkecilku said…
    berarti jaman dulu adanya “kolor biru” … sekarang bertransisi menjelma “kolor ijo”, gitu?

    Kalo kolor merah= superman!

    Reply
  • January 23, 2008 at 2:35 pm
    Permalink

    bener banget tapi aneh juga kalo tiba tiba sepasang kekasih lagi berdua terus ngomong ” dek, liat kuwi langit ijo seindah laut yang ijo seperti kolorku ini “, sambil nunjuk kolornya yang biru
    ” tapi mas kolormu kan ijo…kyaaa..kyaaaa tolong tolong “
    akhirnya mereka putus dan kabar terakhir dari gadis tadi, menggantung pada tali ijo hwuekk#biru#ehmmm

    Reply
  • January 25, 2008 at 1:43 pm
    Permalink

    itu kan hanya nama untuk merefleksikan sesuatu yang abstrak…
    he2x

    Reply
  • January 28, 2008 at 12:06 pm
    Permalink

    cmiiw,
    biru=biru langit
    hijau=biru daun

    itu yang gw dapet waktu ngonrol sm orang di madura…..udah gitu orang bangkalan ditanya arah utara pasti nunjuknya ke arah laut dimanapun mereka berada….walaupun mereka lagi ada di sumenep yg notabene lautnya disebelah selatan….

    Reply
  • February 20, 2008 at 7:00 pm
    Permalink

    betul tuh mas..

    tapi setauku sih orang madura yang gak kenal istilah Biru.

    orang madura biasa nyebut istilah biru tu dengan “hijau langit”..!

    kalo Jawa sih kenal ma biru.. lha saya orang jawa tulen dari kecil tau itu biru ato ijo.

    kira-kira begitchu.. :-)

    Reply
  • March 15, 2008 at 8:07 am
    Permalink

    bener sekali yg dikatakan mas plat AD,
    orang madura tidak mengenal kata hijau.
    disini (Jember) banyak orang madura, dan mereka menyebut “biru laut” untuk warna biru (blue), dan “biru daun” untuk warna hijau (green).

    Reply
  • February 24, 2009 at 4:18 pm
    Permalink

    Clo dipikir** bner jga ya…. mungkin orng jwa tu tau’y hanya warna biru coz knapa kraton solo berwarna biru ….? kan bis diksih warna pink kembang**,,.,.,.,.? Eh sori kya cawet aja….?

    Reply
  • February 16, 2010 at 10:11 am
    Permalink

    orang tua saya yang berposisi sebagai ibu saya juga demikian mas, beliau besar di Turen (sebuah desa di sekitar Malang).
    ketika menunjukkan warna kepada saya, beliau bilang biru sebagai hijau.
    untung aja beliau udah lama di kota, jadi sudah tau warna biru, alhamdulillah.

    Reply
    • February 16, 2010 at 10:14 am
      Permalink

      Huahaha. Jangan gitu, itu justru bagian dari budaya. Kalau tidak perlu banget berubah, jangan dipaksakan, kecuali ingin.

      Reply
      • February 16, 2010 at 10:19 am
        Permalink

        beliau sudah kenal biru, tapi masih sering terbalik antara biru dan hijau, jadi masih lestari toh mas?

  • March 11, 2010 at 2:57 pm
    Permalink

    tapi tapi klu dari jaman dahulu biru itu ijo, cz ijo itu biru… knapa skrang kok ijo itu biro cz biru itu ijo… siapa sih otak kerancuan ini. jadi pngen taw orangnya…. hagagagagaga.

    .:tambah bulet:.

    Reply
  • April 26, 2010 at 11:41 pm
    Permalink

    Kalau saya dari kecil ya tahu ada warna biru. Ijo ya ijonya daun, biru ya langit. Saya dari salah satu desa di Magelang, umur kepala 4.

    Reply
  • June 2, 2010 at 12:22 pm
    Permalink

    salam kenal herman saksono,

    saya naveezh,
    tulisan anda sngat menarik.

    beberapa daerah (atau mungkin orang tua/kakek-nenek) sepertinya tidak mengenal kata biru, tidak memiliki penanda biru…

    Reply
  • April 22, 2011 at 1:26 pm
    Permalink

    yg betul adalah..
    Hijau itu bhs maduranya Biru Deun [ bukan daun]
    biru adalah biru lange’ [ biru langit]

    Reply
  • February 26, 2012 at 6:12 pm
    Permalink

    jawa timur kali ya,
    kalu jawa tengah dan yogya ya tetap biru.
    yang paing terkenal blau, itu dari dulu tetap dibilang biru!

    Reply
  • June 6, 2014 at 5:05 pm
    Permalink

    You really make it seem so easy with your presentation but I find this matter to be really something that
    I think I would never understand. It seems too complicated and very broad for me.
    I am looking forward for your next post, I’ll try to get the hang of it!

    Reply
  • September 15, 2014 at 7:20 am
    Permalink

    You need to check such specific websites that only offer last minute hotel
    deals. Being only a few seconds away from the actual ruins, it has a one-of-a-kind position at the gate to the sanctuary.

    Most of the Boracay Family hotels include a restaurant that
    serves variety of cuisines, swimming pool, housekeeping services, fully equipped hotel rooms,
    gym, shuttle services on request, reservations
    and bookings for various activities.

    Reply
  • September 19, 2014 at 2:42 am
    Permalink

    Hi tuere i am kavin, its my first time to commenting anyplace, when i read this
    paragraph i thought i could also create comment due tto this brilliant post.

    Reply
    • January 17, 2015 at 12:22 pm
      Permalink

      I just hope whoeevr writes these keeps writing more!

      Reply
  • September 21, 2014 at 1:33 am
    Permalink

    Simply wish to say your article is as astounding.

    The clearness in your put up is just spectacular and that i can assume you
    are knowledgeable on this subject. Fine together with your permission let me to clutch your feed to
    stay updated with impending post. Thanks a million and please carry on the enjoyable work.

    Reply
  • September 23, 2014 at 2:31 am
    Permalink

    Ԝhat’s upp colleagues, good artcle and good urging
    commented here, I am really enjoying by these.

    Reply
  • September 23, 2014 at 6:12 am
    Permalink

    Heya i’m for the first time here. I found this
    board and I find It really useful & it helped me out much.
    I hope to give something back and help others like
    you helped me.

    Reply
  • September 28, 2014 at 5:12 am
    Permalink

    I don’t even know hhow I ended up here,but I thought this post wwas great.
    I ddo not know who you aree bbut certainmly you arre
    giing too a famous bloggger iif you are not alreadyy ;
    ) Cheers!

    Reply
  • September 28, 2014 at 7:46 am
    Permalink

    À l’époque, on sentait que des innovations se préparaient, mais la récession a jeté un voile
    sur tout ça. Aujourd’hui, des marques ciblent des tous petits segments du
    marché et s’en emparent.” Elle évoque notamment All Undone, un label anglais qui propose des styles contemporains pour grandes tailles, et Lonely,
    qui vise un esthétisme de très grande qualité depuis la Nouvelle Zélande.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *