hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for January, 2008

January 30th, 2008

Sabuk Pengaman Sebelum Nikah

dina: menurutmu yang perlu disiapkan sebelum nikah…
dina: supaya tidak berantakan di tengah jalan itu apa?
herman: penjajagan calon yang cukup
herman: penjajagan perilaku mertua dan trah (secukupnya
herman: kesamaan visi
herman: kesamaan nilai-nilai
herman: kesepandangan timeframe milestone pernikahan
herman: chemistry
dina: yeah..you’ll never get married

Apakah anda memiliki jawaban yang lebih baik untuk Dina?

January 28th, 2008

Pelamar Wajib Pelanggan Indosat

Suatu hari dalam sebuah pameran bursa kerja:


Kenapa harus wajib menggunakan nomor Indosat? Apa yang terjadi kalau nomor hape-nya bukan Indosat? Menurut SPG-nya, kalau nomornya bukan Indosat nanti tidak akan dihubungi. Sudut kanan stand lowongan kerja itu juga menjual kartu perdana Mentari.

“Bagaimana kalau ada orang pintar yang mau kerja di Indosat tapi nggak punya nomer Indosat?” adalah gumaman pertama seorang teman (yang kerja di telco) ketika mengetahui rekrutmen semacam ini.

January 28th, 2008

Setelah 24 Hari Pak Harto Berusaha Meninggalkan Kita

Melihat nyawa Pak Harto diulur-ulur di RSPP adalah sebuah tontonan yang membikin bulu kuduk berdiri. Bagaimanapun juga hidup setengah-kopling itu nggak enak, mungkin seperti mimpi buruk yang tidak mau berhenti.

Dalam beberapa kasus serupa yang pernah saya temui, dokter dan keluarga biasanya justru mengikhlaskan mereka yang sudah mendekati sakaratul maut. Bukan karena langkah itu agamis, melainkan demi mengurangi siksaan duniawi yang harus ditanggung.

Oleh karena itu agak aneh ketika keluarga dan dokter justru berusaha menahan Pak Harto supaya tetap hidup selama mungkin, sementara organnya jelas sudah rusak-rusak. Di saat anak-anaknya sudah dewasa dan berkecukupan, apakah ada kewajiban lain yang harus ditanggung simbol orde baru ini?

Pak Harto memang sebuah simbol untuk rezimnya; dan simbol memiliki kekuatan magis untuk mempersatukan dan melidungi orang-orang yang bernaung dibawahnya. Jika simbol itu musnah, maka kesatuan itu akan lepas dan perlindungan atasnya akan meluruh pelan-pelan. Sangat masuk akal jika simbol-simbol harus tetap ditegakkan, walaupun kenyataannya sudah tidak bisa.

···

Pada detik-detik terakhir hidupnya Pak Harto terpaksa harus memikul tanggung jawab yang sangat menyiksa demi tegaknya simbol Orde Baru. Akan tetapi saya rasa itu adalah pilihan yang telah dia ambil ketika memutuskan untuk berkuasa hingga 32 tahun lamanya.

January 21st, 2008

Sejak Multiply Gak Bisa Donlot Lagu

Kentang dan Multiply

January 21st, 2008

Dr. Monika Menjawab: Checklist Tidak Dewasa

Dok, beberapa saat yang lalu seorang cewek mengatai saya begini:

“Jok, kamu tu nggak dewasa banget! Mending kita temenan aja!”

Saya pun keheranan karena saya tidak mengenal cewek itu sama sekali, dan nama saya Michael, bukan Joko. Tapi sesampainya di rumah saya jadi kepikiran, jangan-jangan yang dikatakan cewek tadi benar adanya. Jangan-jangan saya memang tidak dewasa.

Michael, Kedu

Dik Michael yang baik. Kedewasaan orang memang bisa diukur dari segi fisik dan psikologis. Banyak bapak-bapak yang saya temui fisiknya sudah seperti bapak-bapak, tapi perilakunya seperti balita: bapak lima tahun. Tetapi rupanya masalah kedewasaan memang menjadi topik yang serius sehingga ada artikel khusus di Wikipedia yang membahas tentang kedewasaan. Saya buatkan checklist apakah anda cukup dewasa:

Saya rasa penjelasan saya sangat membantu ya dik Michael?

January 18th, 2008

Anekdot Gelar Raja-Raja Kita

Panembahan SenopatiMari kita membahas penguasa-penguasa lain negeri ini. Rupanya orang kerajaan Mataram punya cara lucu untuk memberi gelar post-mortem bagi raja yang sudah mangkat.

Contohnya adalah Panembahan Hanyakrawati—penerus Panembahan Senopati—yang meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika berburu di daerah Krapyak. Sebagai gelar kehormatan, beliau dijuluki Panembahan Sedo Krapyak (panembahan yang mati di Krapyak).

Sri Sultan Hamengkubuwono IV, raja Kraton Yogyakarta, meninggal ketika sedang bertamasya. Kemudian, cucu-buyutnya cucu-buyut Panembahan Hanyakrawati ini mendapat gelar Sultan Seda Ing Pesiyar (sultan yang tewas ketika sedang tamasya).

Entah kenapa Panembahan Senopati tidak mendapat gelar post-mortem. Beliau justru mendapat gelar abadi karena sering nongkrong di sebelah utara Pasar Kotagede. Gelarnya adalah Ngabehi Loring Pasar (tuan yang di sebelah utara pasar).

January 17th, 2008

Orang Jawa Tidak Kenal Biru

Konon orang Jawa kuno itu tidak mengenal istilah ‘biru’ untuk menyebut sesuatu yang berwarna seperti langit atau laut. Sebagai gantinya dipakai istilah ‘ijo’ untuk biru dan hijau. Artinya, partainya Amien Rais itu ‘wernoné ijo’.

Ini beneran. Temen saya menemui ketidakwajaran ini ketika mengunjungi desa-desa pelosok yang masih jauh dari peradaban modern. Orang-orang desa rupanya tidak kenal ‘biru’, karena biru itu ‘ijo’. Saya curiga kalau istilah ‘biru’ di Bahasa Jawa sebetulanya merupakan serapan dari Bahasa Melayu. Untunglah suku Jawa tidak sendirian, karena orang Thailand dan Vietnam juga begitu.

Masalahnya jadi agak rumit kalau kita mencermati Perjanjian Gianti pada tahun 1755 ketika kerajaan Mataram dibagi dua menjadi Kasunanan Solo dan Kasultanan Yogyakarta. Setelah perjanjian itu, Pangeran Mangkubumi mulai membangun kratonnya. Supaya tidak sama dengan kraton Solo yang ciri khas-nya biru, Kasultanan Yogya memilih warna hijau. Lantasss… bagaimana bisa orang jaman dulu membedakan warna Solo dan warna Yogya, kalau kedua-duanya disebut ‘ijo’?

‘Bagaimana pula dengan Buto Ijo?’, tanya Tomas. Jangan-jangan julukan itu maksudnya makhluk besar yang kebiruan. Kebiruan karena pucat akibat anemia. Emang buto bisa anemia? Bisa aja kalau lima organ tubuhnya sudah tidak berfungsi.