Opinion - October 31st, 2007
Aliran Sesat
Fenomena aliran sesat itu bukan sesuatu yang gampang saya mengerti. Itu tidak seperti tersesat di pasar, atau di gang-gang kampung. Ini adalah fenomena yang delicate, halus, tapi rumit. Makanya, ketika ada protes menentang aliran sesat dan diikuti aksi main hakim sendiri, saya teringat kalau orang Indonesia pada umumnya itu sangat peduli pada masalah etis. Tetapi, giliran ada orang korupsi dan kolusi, satu sama lain mingkem tidak berani protes, apalagi main hakim sendiri. Rata-rata begitu ya? Bukankah masalah yang terangkat menjadi topik nasional biasanya tentang hal-hal etis, yang biasanya berkaitan dengan agama, nilai masyarakat,... harga diri?
Yah sudahlah, pelan-pelan nanti bisa imbang sendiri. Tetapi kita tidak bisa bohong kalau masalah pluralitas memang sering mengerus keutuhan negeri ini, kadang-kadang pada level yang sangat mengerikan. Saya tidak bilang kalau keberagaman itu harus dirayakan lho. Tapi suka atau tidak suka, itu adalah takdir yang menjadi tanggung jawab bersama ketika kita berbagi tanah ini.
Tentu saja, saya tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh penganut aliran yang barusan naik daun itu, tetapi menolaknya tidak berarti harus menjebloskannya ke kantor polisi atau menghalangi mereka untuk beribadah. Berbicara tentang kepercayaan adalah sesuatu yang sangat khusyuk dan Ilahi sehingga keragaman memahami Tuhan memang sangat mungkin terjadi. Malah, bagi banyak orang, memahami kebenaran adalah sebuah proses pencarian tiada henti, bukan sebuah status quo yang stagnan. Jika di tengah jalan salah, ya namanya juga manusia, salah itu wajar. Yang tidak wajar itu kalau yang lain diam saja, atau justru menghakimi kesalahannya.
Sebagai umat yang baik, hal termanis yang bisa kita lakukan adalah membimbing dan meluruskan mereka yang tersesat, bukan menghakimi dan menghukum, karena hukuman biasanya hanya bisa meluruskan tindakan, tapi tidak membenahi yang di dalam hati. Memang sih, membimbing itu butuh tenaga, otak, dan hati. Tetapi untuk meluruskan zat yang selembut dan serumit hati, kita memang tidak punya banyak pilihan. 
















