hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Misc - February 1st, 2007

Kisah Mimpi Tentang Keranda

Herdi, seorang pegawai konstruksi, mengalami mimpi yang aneh. Dalam mimpi, dia mendapati dirinya terbangun di desa asalnya, Klaten. Tidak seperti biasanya, pagi itu rumahnya sangat sepi, tidak ada bapak ataupun ibunya. Murwanti—adik bungsunya—ataupun Herjun, suami Murwanti, juga tidak terlihat. Suasananya terasa serba tidak wajar; desanya yang biasanya cerah dan sejuk, pagi itu terasa singup berkabut.

Tiba-tiba, di ujung jalan muncul sosok kakek tua berpakaian putih seperti seorang imam. Berbaris di belakangnya ada beberapa orang yang memikul keranda. Kakek tua itu mendekat, menghampirinya, dan berkata: “Masih bisa untuk satu orang lagi, nak.” Ucapan itu membuat Herdi berjengit dan menggelengkan kepalanya. Kemudian kakek tua itu menundukkan kepala dan berjalan menjauh, sambil terus-menerus berteriak: “Masih bisa untuk satu orang lagi! Bisa satu orang lagi!,” sampai akhirnya suaranya tak terdengar, terkubur oleh kabut dan kesunyian pagi.

Herdi tidak ingat betul lanjutan mimpinya, apalagi mimpi itu lalu tercampur dengan mimpi-mimpi yang lain. Tapi kedatangan kakek tua dan kerandanya terus terngiang dalam benaknya.

Keesokan harinya, seperti biasa, Herdi kembali bekerja di sebuah lahan konstruksi di daerah Kelapa Gading. Menjelang jam istirahat, dia diperintah mandornya untuk menangani lantai 15. Herdi pun bergegas menuju lift. Di sana ia mendapati dua buruh lain sudah di dalam lift yang juga disesaki beberapa bahan bangunan. Salah satu buruh berkata: “Ayo, masih cukup kok. Masih bisa untuk satu orang lagi.”

Kata-kata itu membuat Herdi ketakutan setengah mati. Dia langsung terhenyak menjauh meninggalkan kedua temannya. Beberapa saat kemudian, ketika berada di lantai 13, terjadi kerusakan pada lift sehingga lift tersebut jatuh. Dua temannya tewas seketika.

20 Comments


Leave a Reply