hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for November, 2006

November 30th, 2006

Random Fact #58: Margarin, Mentega, dan Smackdown

Tahukah anda kalau undang-undang provinsi Quebec, Kanada melarang penambahan perwarna pada margarin? Artinya, margarin seperti Blue Band yang dijual di Quebec warnanya putih, tidak kuning. Peraturan ini ditujukan agar konsumen tidak bingung membedakan margarin dengan mentega. Kanada adalah satu-satunya negara yang masih memberlakukan larangan ini.

Tahukah anda kalau Komisi Penyiaran Indonesia hendak melarang penyiaran WWF Smackdown di televisi? Peraturan ini ditujukan untuk membantu penonton yang masih bingung membedakan mana yang betulan dan mana pura-pura. Indonesia adalah satu-satunya negara yang Komisi Penyiarannya menyalahkan orang lain, untuk kesalahan akibat kelalaiannya sendiri.

Mode sarcasm saya matikan lagi.

November 29th, 2006

Anekdot #3: Font & Typeface

Tidak enak tidak berarti tidak disukai…
Courier adalah huruf monospace1, yang kurang enak dibaca dibandingkan huruf semacam Arial yang jarak antar hurufnya proposional. Akan tetapi, Courier sudah terlanjur menjadi standar resmi untuk dokumen-dokumen tertentu. Screenplay (skenario film) contohnya, harus ditulis dengan font Courier 12 pt. 12 pt Courier New juga merupakan font resmi dokumen diplomatik Deplu AS, hingga tahun 2004, yang kemudian diganti menjadi Times New Roman 14pt.


terbaik tidak berarti terkenal….

Itu nasib Helvetica. Dirancang tahun 1957, Helvetica adalah typeface yang sangat populer hingga digunakan untuk logo perusahaan ngetop semacam Nestle, BASF, Panasonic dkk; dan juga disertakan dengan Apple MacOS. Tetapi pada tahun 1992, Microsoft ingin menyertakan font jenis sans-serif2 bersama Windows 3.1. Waktu itu, Windows baru saja punya fitur untuk menampilkan font True Type. Dengan alasan ekonomis, pilihan jatuh ke Arial yang mirip dengan Helvetica, dan lebih murah. Popularitas Windows akhirnya mengantar Arial menjadi ngetop. Jauh lebih ngetop daripada Helvetica, walaupun menurut para designer Helvetica lebih cantik. Apple pun akhirnya juga ikut mengikut-sertakan Arial dengan MacOS.


dan menjadi terkenal tidak berarti harus kreatif.
Pernah tahu bagaimana Times New Roman bisa dinamai Times New Roman? Tahun 1931 surat kabar Inggris The Times ingin mengganti huruf yang selama ini mereka pakai untuk mencetak koran. The Times menunjuk Stanley Morrison untuk merancang typeface baru. Hasilnya adalah typeface baru, jenis roman, untuk surat kabar The Times, yang kemudian diberi nama: Times New Roman. Huh, tidak kreatif sama sekali.


1 Typeface monospace yaitu jenis typeface yang jarak antar hurufnya sama. Misalnya huruf ‘i’, walaupun lebarnya lebih kecil daripada huruf ‘m’, tapi ruangnya sama dengan huruf ‘m’. Konsensus umum biasanya setuju kalau mata manusia merasa lebih nyaman melihat tulisan yang jarak tiap hurufnya proporsional
2 Typeface sans-serif adalah jenis typeface yang bagian ujungnya tidak ada lancip-lancipnya. Contoh: Arial, Tahoma, Verdana dkk. Sodaranya sans-serif adalah serif, seperti Times New Roman, Georgia dan Garamond, yang ada lancip-lancipnya di ujungnya gitu deeeh!

November 27th, 2006

Keriputnya Teri Hatcher


Apa yang terjadi kalau keriput Teri Hatcher menjadi salah satu episode di Desperate Housewives? Mungkin epilognya akan jadi seperti ini:

Some people mourns for the fading beauty. Some people felt a faked pityness for the visible wrinkles. And some people marks the wrinkles with sarcastic remarks. But really, deep down we celebrate the aging of a star, because we constantly endure jealousy for other’s beauty.

Tapi memang betul kalau akhir-akhir ini keriput bintang film menjadi bahasan yang menarik. Dewi-dewi sewaktu saya masih kecil seperti Farah Fawcett, Teri Hatcher, Demi Moore dan Sharon Stone kini mulai tua dan keriputan. Kita yang selama ini hanya menonton, tentu saja hanya bisa merasa prihatin ketika bintang yang dulunya bercahaya, kini mulai meredup dan kehabisan sinarnya.


Tapi bukankan menua adalah sesuatu yang harus dirayakan dengan sukacita? Saya tidak prihatin kok ketika melihat Judi Dench, yang justru makin mempesona dengan keriputnya. Kenapa Glen Close dan Meryl Streep tetap nampak charming walaupun sudah berusia setengah abad lebih?

Mungkin karena wanita-wanita matang ini tidak berbusana sepuluh tahun lebih muda daripada usianya. Wanita (dan Pria) nampaknya akan nampak lebih sempurna jika berbusana sesuai dengan usianya. Anak SMA akan lebih cantik kalau berbusana seperti layaknya anak SMA (baca: tidak slutty). Ibu-ibu pun akan lebih cantik kalau mengenakan busana wanita matang, bukan tanktop dan slim-fit jeans.

Tapi apalah saya kok mau mengatur orang berpakaian? ;)

November 25th, 2006

James Bond, Casino Royale dan Three Act Plot


Seperti Tarzan, alien, dan koboi, James Bond adalah produk Amerika yang sudah diperah habis-habisan oleh Hollywood. Jadi, ketika Martin Campbell mengumumkan kalau Casino Royale adalah reboot dari seri James Bond yang sudah ada, orang-orang yang jenuh dengan Bond si raja gadget yang flamboyan menyambutnya dengan suka cita. Ini tentu saja akan merombak image James Bond yang selama ini dirintis Sean Connery, Roger Moore, Pierce Brosnan dkk, menjadi Bond yang lebih tepat untuk abad 21. James Bond dengan vulnerability.

Casino Royale menghadirkan Bond baru (diperankan oleh Daniel Craig), yang tanpa basa-basi . Dalam misinya, agen 007 ini bertugas menangkap pembuat bom, teroris serta bertanding poker dengan financer teroris. Tanpa adanya gadget yang muluk atau spesial efek komputer yang kelewatan, film ini mengandalkan plot, karakter, dan action. Hasilnya?

Film action yang seru tapi disajikan pelan dan tidak tangkas.

Makanya, ketika film selesai dan lampu bioskop nyala, saya bertanya-tanya. Apakah film ini nggak salah? Ternyata begini, walaupun saya sudah pasrah menikmati sajian film Bond yang direformasi, saya masih mengharapkan film ini disajikan memakai alur three-act structure.


Apa itu three-act-structure? Ini adalah cara kasaran yang dipakai penulis skenario untuk membagi sebuah film. Cara ini membantu menentukan kapan titik-titik alur yang penting (seperti klimaks) diletakkan. Act pertama dimulai dari pembukaan hingga terjadinya katalis, dimana tokoh utama mengalami masalah pokok. Act kedua adalah konflik, dimana tokoh utama mulai berusaha menyelesaikan masalahnya hingga terjadi konfrontasi. Act terakhir adalah resolusi, ditandai dari si tokoh mulai menyelesaikan masalah utamanya hingga masalahnya selesai dan akhirnya ditutup dengan epilog.


Film yang cukup patuh mentaati ‘aturan’ ini antara lain adalah Mission: Impossible III. Act 1 selesai ketika kendaraan yang membawa villain diserang dan istri Ethan Hunt diculik. Act II mulai dari rencana Ethan masuk ke gedung penyimpan rabbit-foot hingga ketika dia berhasil melumpuhkan kroco-kroco di sarang musuh. Act III dimulai dari konfrontasi dengan Devian hingga film selesai.

Inilah alasan kenapa MI3 dan film Bond sebelumnya terlalu membosankan. Karena terlalu taat.

Casino Royale tidak hanya mereformasi karakter James Bond tetapi juga merubah penyajian alur film menjadi tidak terduga, sehingga ketika anda keluar dari bioskop, mungkin rasanya seperti nonton film art-house, bukan film blockbuster.

Saya harus menarik kembali komentar saya kalau penuturan film ini tidak tangkas. Sebaliknya, film ini adalah langkah berani yang tidak hanya melahirkan kembali idola lama, tetapi juga mendefinisikan kembali alur cerita sebuah genre film spy dan film action.