hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for July, 2006

July 20th, 2006

Davy Jones di Pirates of Caribbean


Saran saya, tontonlah Pirates of Caribbean: Dead Man’s Chest, selain karena storyline yang menghibur, akting Johnny Depp yang aneh dan unik, tentunya untuk bertemu salah satu villain Disney yang paling menarik: Davy Jones, kapten kapal misterius The Flying Dutchman.

Ya, Davy Jones, sosok villain yang tidak terlalu kompleks, tapi memiliki charm dan eloquence ditambah dengan tentakel-tentakelnya yang jijay itu. Banyak yang mengira kalau tentakel tersebut hanya make-up, padahal keseluruhan karakter Davy Jones dibuat dengan komputer alias CGI. Tentakel-tentakel hidup yang di film nampak basah berlendir ternyata cuma poligon-poligon yang dibuat oleh ILM.

Tim ILM ini dikomandoi oleh SFX artist veteran: John Knoll. John Knoll adalah bapak yang menemukan filter lens flare dan yang membuat monster air dalam film The Abyss.

Ketika syuting, Davy Jones ‘diperankan’ oleh aktor kawakan Bill Nighly yang mengenakan jubah motion-capture. Jubah khusus ini diberi marker yang agar dapat merekam gerakan Bill Nighly ke dalam komputer. Untuk merender karakter ini, dugaan saya para kru ILM menggunakan HDR image dan ambient occlusion. Agar tentakel-tentakel tersebut nampak realisits, digunakan shader subsurface scattering.


Spesial effect baru dinamakan bagus kalau orang tidak tahu kalau itu special effect. Untuk yang ini, banyak yang tidak tahu kalau Davy Jones itu adalah CG.

July 1st, 2006

Superman Returns


Ketika orang membawa beban yang berat, tentu saja dia tidak lincah. Saya misalnya, gara-gara diekspos oleh Roy Suryo, saya jadi ndak bisa nulis dengan nyaman dan santai. Sebentar-sebentar harus was-was dan kuatir, jangan-jangan melecehkan lambang negara lagi.

Mungkin itu perasaan Bryan Singer, sutradara Superman Returns. Setiap orang boleh mengingkarinya, tapi pada kenyataannya Superman adalah legacy budaya Amerika. Dan kalau sesuatu sudah jadi legacy, untuk dikembangkan menjadi lebih up-to-date susahnya minta ampun.

Superman dibuat nampak lebih muda, diprotes. Warna kostum beda, diprotes. Lex Luthor dibuat mendekati akting Gene Hackman dalam Superman: The Movie, diprotes juga.

Sam Raimi bisa dibilang lebih sukses membuat Spiderman 2. Oleh karena tidak banyak beban yang harus dipikul, pada akhirnya Spiderman menjadi icon superhero film abad 22: sebuah sosok yang vulnerable dan manusiawi. Sang musuh, Doc Oc juga sukses menjadi sosok supervillain yang motifnya tidak mengada-ada (berlawanan dengan Lex Luthor).

Tiga bintang (dari lima bintang) untuk Bryan Singer yang akhirnya berhasil meneruskan franchise Superman. Pada akhirnya Superman Returns tetap layak ditonton dan seru. Tapi ya… cuma itu. Tidak ada depth dan emosi yang kuat, yang dapat membuat film ini menjadi legenda.