hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for June, 2006

June 29th, 2006

Visual World Cup 2006

Saya termasuk yang tidak suka logo Piala Dunia Jerman? Kenapa? Karena untuk sebuah event olahraga yang mengegerkan dunia , logo ini rasanya hambar. Tidak menggairahkan. Desainer logo nampak telah berusaha memasukkan excitement dalam desainnya, tapi masih terasa kurang. Coba bandingkan dengan logo Piala Eropa 2004 yang begitu seksi dan menggairahkan:


Saya tidak sendiri. Logo-design guru Jerman Erik Spiekermann (yang membuat logo VW, Apple, Audi, dan Nike), malu melihat logo World Cup 2006.

Saya juga tidak suka maskot singa Jerman tak bercelana, Si Goleo. Bentuknya itu lho, tidak proporsional. Lehernya terlalu panjang:


Walaupun Goleo adalah karikatur singa, tetapi karikatur-pun harus tetap proporsional. Coba perhatikan tokoh2 binatang pada film-film Disney atau Pixar. Walaupun mereka nyaris tidak mirip dengan binatang aslinya, tetapi desain karakternya proporsional sehingga tetap sedap dilihat.

Presskit yang disediakan di website piala dunia rasanya juga sangat minimalis. Jangankan ada artwork pendukung desain, logo saja tidak ada download-nya. Wallpaper-nya juga terasa hambar dan terkesan effortless. Lagi-lagi saya membandingkan dengan Viveo 2004: Panitia Piala Eropa Portugal sangat murah hati karena menyedikan download artwork (dengan format vektor), wallpaper-wallpaper yagn cantik, dan logo Piala Eropa tentunya.

Mungkin, Komite Piala Dunia Jerman sibuk membuat stadion yang ‘wah’, sehingga lupa membuat desain visual yang menarik.

June 25th, 2006

Dilema Ujian Nasional (UN)


Sejak hasil Ujian Nasional SMU dipublikasikan Senin lalu dan banyak siswa yang tidak lulus karena nilainya dibawah 4.25, bertubi-tubi kritikan terus melayang ke pemerintah. Mulai dari “tidak sensitif terhadap permasalahan”, sampai ke “pemerintah melanggar HAM!”. Sayangnya hampir semua kritikan tidak konstruktif. Misalnya, pernah ada siswa yang memprotes kenapa belajar 3 tahun ditentukan 3 jam? Ada juga yang protes kenapa kelulusan ditentukan hanya dengan 3 mata pelajaran.

Kalau ujian 3 mata pelajaran saja tidak lulus, kalau ditambah lagi, jangan-jangan semakin tidak lulus?

Ujian 3 jam untuk menilai proses belajar 3 tahun juga tidak dapat terlalu disalahkan. Tentu saja hasil ujian nasional bisa lebih mencerminkan kualitas akademik siswa kalau frekuensinya lebih sering (contoh: 3 bulan sekali). Tetapi dengan kekurangan anggaran nasional yang terus terjadi, akan terasa lebih pantas kalau dana pemerintah dipakai untuk memperbaiki kualitas guru dan sarana pengajaran.

Ini kembali mengingatkan kita kalau UN bukan masalah gampang. Di satu sisi eksekutif ditekan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, dan di sisi yang lain juga dituntut untuk meluluskan sebanyak mungkin siswa.

Ada dua rantai dalam meningkatkan kualitas pendidikan, pertama meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri, dan yang kedua adalah mengevaluasi output dari hasil pendidikan, antara lain dengan UN. Jika kualitas sudah diupayakan untuk meningkat, tapi tidak pernah dievaluasi, lalu dari mana pemerintah tahu kalau kualitas pendidikan sudah lebih baik. Kalau sudah dievaluasi, dan siswa-siswa yang kualitasnya dibawah standar tetap diluluskan, berarti pemerintah melakukan kebohongan publik.

Atau standarnya diturunkan? Nilai minimum 4,25 saja sudah terdengar sangat rendah, kalau diturunkan berarti kualitas akademik pelajar Indonesia semakin rendah. Atau standar kelulusan ditentukan secara regional (apalagi dengan semangat otonomi daerah)? Berarti si Fulan bisa jadi orang pintar di provinsi A tapi jadi orang geblek di provinsi B. Bukannya seharusnya kepintaran adalah sesuatu yang universal?

Oleh karena itu, ujian nasional harus tetap diadakan, dengan standar (yang kalau bisa) terus menerus dinaikkan. Tetapi ini tidak berarti pemerintah tinggal berpangku tangan, karena anda, pemerintah, punya ujian yang jauh lebih berat, yaitu meningkatkan kualitas pendidikan.

June 24th, 2006

Benarkah Ponsel Rentan Disambar Petir?


Ternyata 3 orang dokter dari Northwick Park, London, melaporkan kalau seorang gadis 15 tahun tercidera oleh petir ketika sedang berbicara dengan HP. Saat itu gadis cilik ini sedang berjalan-jalan di taman ketika petir bersahut-sahutan. Demikian diliput oleh detikcom dan juga BBC. NBC juga melaporkan berita yang mirip. Kasus yang sama juga pernah terjadi di Kuala Lumpur: Sri Damansara tersambar petir ketika sedang masuk mobil dan menggunakan HP.

Analisis ketiga dokter pertama kali dimuat di British Medical Journal. Menurut Ram Dhillon, FRCS, salah satu dari ketiga dokter tersebut, HP meneyebabkan cidera lebih parah. Pada umumnya petir membut kulit terbakar, tetapi karena gadis cilik tadi memegang HP (yang mengandung logam), kerusakan menjadi masuk dan merusak organ-organ yang lebih dalam.

Dengan kata lain memegang sendok, kabel, egrang, dan payung juga sama berbahayanya seperti membawa HP. Uang recehan di saku juga berbahaya.

Tetapi menurut meterologis Dennis Feltge dari National Weather Service Inggris, kekeliruan utama yang dilakukan gadis tersebut adalah berjalan-jalan diluar saat ada petir. Cara paling aman untuk menghindari petir adalah berlindung di bawah gedung yang tertutup. Dia menambahkan kalau jumlah logam di dalam HP sangat kecil untuk dapat menarik petir.

June 8th, 2006

Program Cash For Work NGO Asing

Agak mengejutkan ketika diberi tahu kalau Universitas Gadjah Mada mendukung program cash-for-work dalam response plan yang baru saja mereka rilis. Program ini, pada intinya adalah meminta warga untuk bergotong-royong membangun kembali rumah-rumah mereka, tetapi dibayar.

Lalu apa masalahnya? Kita perlu mencermati bahwa tanpa dibayar, warga desa yang terkena gempa sudah mulai bergotong-royong merenovasi rumah-rumah mereka yang rusak. Di Klaten 7 hari setelah gempa, puing-puing yang memenuhi jalan sudah mulai dibereskan dan 2 rumah sudah dibangun ulang. Sementara itu bantuan dari sisi lain Jogja yang tidak terkena gempa juga terus-menerus mengalir dan mengalahkan kiprah NGO asing. Semangat gotong-royong dan berempati terhadap orang lain ini sudah ada dan hidup di lingkungan masyarakat Jogja dan Jateng, terutama daerah rural.

Program membayar gotong royong ini justru mendorong penduduk rural Jogja dan Jateng menjadi masyarakat yang itungan. Program ini bukannya memberikan modal untuk warga desa memulai kehidupan baru, tapi malah dikhawatirkan merusak modal sosial yang selama ini tersedia. Apa yang akan terjadi kalau program cash-for-work selesai? Bagaimana kalau tidak ada duit, warga menjadi enggan membantu rumah tetangganya yang belum sempat direnovasi? Bagaimana kalau program ini mendidik penduduk menjadi peminta-minta?

Cash-for-work mungkin ideal kalau seluruh industri dan perdagangan rusak akibat bencana, karena ini memberikan kesempatan bagi warga untuk mendapatkan uang dengan tidak cuma-cuma. Tetapi di Jogja tidak semua pabrik rusak, pertanian akan segera panen, dan perekonomian di sisi lain Yogya sudah mulai berjalan.

Akan lebih positif jika pemerintah mendorong penduduk untuk kembali bekerja dan memberikan insentif kepada industri dan perdagangan di daerah bencana untuk kembali beroperasi, karena saya rasa ekonomi yang sehat sangat penting untuk pemulihan pasca bencana. Bekerja juga membantu penduduk untuk melupakan trauma pasca gempa. Kemudian renovasi infrastruktur dan tempat tinggal dilakukan oleh pemerintah dan swasta dengan menyerap SDM lokal. Dengan demikian kita sudah melakukan beberapa hal bersamaan: mempercepat proses rehabilitasi dari trauma akibat gempa, menyediakan tempat tinggal baru untuk warga, membuka lapangan kerja yang cukup besar (pada akhirnya ikut mendongkrak pendapatan perkapita Jogja), sekaligus menggerakan roda ekonomi di sisi industri & perdagangan.

Saya mohon maaf telah beropini sedemikian lantang, sementara saya sendiri tidak merasakan dampak parah dari gempa dan tidak memiliki banyak pengetahuan terhadap ekonomi makro. Tapi proses perbaikan yang baik haruslah tidak merusak apa yang tidak rusak.

Tautan:

June 5th, 2006

Dalam suasana bencana jangan bikin hoax

Teman-teman yang baik :) Dalam suasana depresi pasca gempa ini alangkah baiknya informasi yang belum dapat konfirmasikan kebenarannya jangan disebarkan terlebih dahulu. Ada baiknya anda cek dulu sumber informasi tersebut, bisa mulai dari cnn.com atau en.wikipedia.org.

Warga yang menjadi korban gempa sudah kehilangan sanak saudaranya, kehilangan rumah, kedinginan, dan ada yang sakit. Isu-isu yang membuat mereka tambah stress tentunya tidak membantu proses pemulihan sama sekali.

Terima Kasih ;)