hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for May, 2006

May 31st, 2006

Stop Blaming, Stop Being Emotional, and Focus on Helping


Membantu orang lain adalah sebuah passion yang indah. Makanya ketika semangat ini terasa dihalangi, orang akan cenderung emosional. Ketika relawan berselisih, peselisihan itu cenderung menjadi sangat kontraproduktif. Atau setidaknya itu yang saya amati.

Walaupun saya belum pernah benar-benar di daerah gempa, tetapi di berbagai tempat relawan mulai emosional. Sebenarnya tujuan kita semua sama, membantu korban gempa Jogja. Tetapi definisi membantu ini rupanya berbeda-beda. Ada yang ingin membantu di daerah X, ada yang ingin membantu daerah Y, ada yang ingin membantu cepat, ada yang ingin bantuan terkoordinasi manis.

Tujuan sama, tapi ternyata definisinya beda-beda. Ini yang potensial membuat clash. Apalagi medan tidak bersahabat dan stamina menurun.

Mungkin ada baiknya menyeragamkan tujuan sebelum mulai bekerja. Saya pun kesulitan berkepala dingin dalam situasi-situasi ini. Tapi bersikap emosional memang tidak membantu. Mungkin ada baiknya berhenti menyalahkan, dan mulai mencari solusi. Situasi memang tidak enak, tapi tidak perlu dibuat lebih tidak enak.

Makanya, saya agak panas ketika MetroTV mengkritik pemerintah lamban dalam menyalurkan bantuan gempa Yogya, sementara posko Media Indonesia sendiri masih belum bisa memberikan bantuan dengan sempurna. Relawan untuk daerah Klaten, saat ini masih menunggu bantuan yang dijanjikan Media Indonesia. Bantuan yang dijanjikan akan siap antar hari Selasa siang (29/5) sampai saat ini belum bisa didapat

Di sudut lain, penduduk desa di Klaten masih kekurangan makanan sejak gempa terjadi.

May 28th, 2006

RSU Sardjito

Tadi sore saya menuju RSU dr. Sardjito Yogya untuk mendapatkan daftar pasien maupun korban tewas setelah gempa bumi yang terjadi Sabtu kemarin. Sebagian karyawan ditempatkan di teras dan selasar rumah sakit. Selain karena jumlah pasien sudah melebihi kapasitas rumah sakit, beberapa pasien lebih memilih berada di luar daripada di dalam gedung.

Karena sore tadi hujan mulai turun, kondisi pasien tambah parah karena air hujan mulai membasahi lingkungan rumah sakit. Genangan air ini dikhawaritkan dapat menyebabkan penyakit.

Saya sempat bertemu dengan ibu Indah yang mengepalai bagian rekam medis. Walaupun tidak banyak istirahat sejak gempa kemarin, beliau sangat ramah dan mendukung upaya helpjogja.net untuk membantu korban gempa. Oleh bu Indah saya diajak bertemu dengan Ibu Lipur di bagian forensik untuk mendapatkan daftar korban tewas yang ada di RSU dr. Sardjito. Sama seperti ibu Indah, bu Lipur juga sangat ramah.

Sungguh luar biasa orang-orang yang berada di RSU Sardjito, walaupun situasi tidak begitu ramah, tetapi tetap friendly dan tidak menunjukkan tanda-tanda lelah. Sejumlah mahasiswa co-ass juga berada disana memberikan bantuan kepada pasien-pasien. Relawan dan penunggu pasien bahu membahu, entah mengangkat tandu atau turut membersihkan jalan dari genangan lumpur. Suasana, walapun tidak bisa dibilang nyaman, tapi tidak kaotis dan terkendali.

Selasar RSU dr Sardjio yang dipenuhi pasien:

Sudut RSU dr. Sardjito yang digunakan untuk menampung pasien:

Teras RSU dr. Sardjito yang digunakan untuk menampung pasien:

Terima kasih untuk Dina yang sudah menemani saya selama di Sardjito.

May 28th, 2006

helpjogja.net

Wahyu dan Pramono beserta Pak Bambang Prastowo dari UGM membuat info center seputar gempa Jogja yang terjadi Sabtu (27/5) kemarin. Info center ini bertujuan bertukar informasi reliabel tentang situasi Jogja serta berbagai cara bagi anda untuk membantu korban gempa tersebut.

URL: http://helpjogja.net

Mereka juga mengundang rekan-rekan untuk memberikan kontribusi, baik berupa berita atau info lain.

May 27th, 2006

Gempa di Jogja

Gempa bumi terjadi tadi pagi, sekitar pukul 6 pagi. Waktu itu saya masih tidur, tiba-tiba ada tremor yang cukup keras. Rasanya seperti rumah ditabrak truk. Saya langsung lari keluar, sampai jatuh segala karena lantai bergoyang kencang. Gempa mereda beberapa detik kemudian. Gempa susulan yang cukup keras terjadi beberapa saat kemudian.

Pukul 8, saya sekeluarga mencoba berkeliling melihat situasi Yogya. Di daerah UGM tiba tiba ada arus massa (kebanyakan orang lari dan motor) yang meneriakkan: ‘Air!!’, maksudnya ada tsunami. Waktu itu mobil kami langsung banting setir dan berusahna menuju daerah yang tinggi (ie.: Kaliurang). Tapi akhirnya kami pikir lebih masuk akal untuk pulang kembali ke rumah mengingat posisi Yogya cukup tinggi, dan jika benar-benar terjadi Tsunami, pegunungan Sewu yang di daerah selatan DIY seharusnya sudah bisa memblok air pasang. Jika air pasang bisa lebih tinggi daripada gunung sewu, kemungkinan besar 1/2 pulau Jawa juga terendam.

Tak lama kemudain dari radio didapatkan konfirmasi bahwa Tsunami tidak terjadi.

Gempa susulan terjadi lagi sekitar pukul 10.15 dan pukul 11.00. Beberapa gempa susulan juga terjadi tapi kekuatannya sudah sangat kecil. Listrik sempat mati berjam-jam walaupun hidup kembali sekitar pukul 12. Kerusakan bangunan di Yogya utara tidak begitu parah, tetapi di daerah selatan banyak tembok yang runtuh. Pakdhe saya yang tinggal di kotagede tidak dapat keluar ke jalan besar, karena jalan gang dipenuhi reruntuhan material. Alhamdulillah, keluarga saya tidak mengalami kecelakaan yang parah. Sungguh menyayat hati melihat mayat-mayat tertimbun bangunan, beberapa diantaranya adalah lansia yang tidak berdaya.

Saya sekeluarga menghaturkan duka cita sedalam-dalamnya keapda seluruh korban gempa Jogja 27 Mei. Semoga Tuhan senantiasa memberi ketabahan kepada saudara-saudara kita semua.

Amin.

Kepanikan di Ring Road Utara akibat isu tsunami:

Jalan kampung ikut ribut gara-gara isu Tsunami

Jalan Gejayan:

Kanopi mall Saphir Square yang Ambruk:

Plaza Ambarrukmo tidak luput dari kerusakan, walaupun cuma dinding yang retak (bukan struktur)

Beberapa rumah yang runtuh di Jogja Utara setelah gempa

May 20th, 2006

Da Vinci Code

Walaupun buku karangan Dan Brown ini menjadi best-seller internasional, tetapi filmnya yang dirilis 19 Mei kemarin menuai kritik tajam dari kritikus film. Tidak tanggung-tanggung, di Rottentomatoes.com ratingya cuma 17%. Para kritikus film ini memang kurang ajar :) , karena dengan rating 17% Da Vinci Code berarti jeleknya setara film-film jelek seperti:

  • Big Momma’s House 2,
  • Date Movie,
  • Kiss Me Again, dan
  • Larry the Cable Guy: Health Inspector

Rottentomato sendiri pada umumnya cukup kredibel untuk memberikan gambaran kualitas sebuah film. Sebagai perbandingan, dua contender Oscar 2006: Brokeback Mountain mendapat rating tomateometer 86% dan Crash mengumpulkan 75%.

Memang, DVC tidak seindah Brokeback dan se-emosional Crash, tapi rating 17% terasa keterlaluan. Seolah-olah, para kritikus ini sedang berkonspirasi untuk menunjukkan kalau orang-orang yang selama ini memprotes Da Vinci Code telah membuang waktunya.

Tetapi pertanyaannya, apakah film yang distradarai Ron Howard ini cukup menarik untuk ditonton? Bagi yang belum menonton filmnya: film ini jelas akan seru dan menghibur. Alur thiller buku aslinya ditranslasikan dengan baik menjadi film, walaupun sebenarnya bisa lebih seru lagi. Ditambah dengan bermacam-macam teka-teki yang disajikan, mungkin film ini bisa lebih menghibur daripada M:I:III.

Bagi yang sudah membaca bukunya, mungkin akan kecewa karena beberapa karakter yang pada buku aslinya sangat multi dimensional berubah menjadi makhluk uni dimensional. Akibatnya karakter-karakter tersebut terasa ampang dan tidak memiliki motif yang convincing. Sayangnya lagi, kedalaman buku DVC yang menyinggung berbagai lukisan, arsitektur, dan kejadian sejarah terpaksa dihilangkan, mungkin agar film ini tidak lebih lama dari 2 jam 30 menit. Tapi toh anda akhirnya bisa tahu seperti apa bentuk gereja Saint-Sulpice, gereja Temple (yang berbentuk bulat), dan La Pyramide Inversée alias piramida terbalik Louvre.