May 31st, 2006
Stop Blaming, Stop Being Emotional, and Focus on Helping

Membantu orang lain adalah sebuah passion yang indah. Makanya ketika semangat ini terasa dihalangi, orang akan cenderung emosional. Ketika relawan berselisih, peselisihan itu cenderung menjadi sangat kontraproduktif. Atau setidaknya itu yang saya amati.
Walaupun saya belum pernah benar-benar di daerah gempa, tetapi di berbagai tempat relawan mulai emosional. Sebenarnya tujuan kita semua sama, membantu korban gempa Jogja. Tetapi definisi membantu ini rupanya berbeda-beda. Ada yang ingin membantu di daerah X, ada yang ingin membantu daerah Y, ada yang ingin membantu cepat, ada yang ingin bantuan terkoordinasi manis.
Tujuan sama, tapi ternyata definisinya beda-beda. Ini yang potensial membuat clash. Apalagi medan tidak bersahabat dan stamina menurun.
Mungkin ada baiknya menyeragamkan tujuan sebelum mulai bekerja. Saya pun kesulitan berkepala dingin dalam situasi-situasi ini. Tapi bersikap emosional memang tidak membantu. Mungkin ada baiknya berhenti menyalahkan, dan mulai mencari solusi. Situasi memang tidak enak, tapi tidak perlu dibuat lebih tidak enak.
Makanya, saya agak panas ketika MetroTV mengkritik pemerintah lamban dalam menyalurkan bantuan gempa Yogya, sementara posko Media Indonesia sendiri masih belum bisa memberikan bantuan dengan sempurna. Relawan untuk daerah Klaten, saat ini masih menunggu bantuan yang dijanjikan Media Indonesia. Bantuan yang dijanjikan akan siap antar hari Selasa siang (29/5) sampai saat ini belum bisa didapat
Di sudut lain, penduduk desa di Klaten masih kekurangan makanan sejak gempa terjadi.



I regard that mind is meant to be free and moving mind to mass is a destiny. I can be geeky when it comes to movies, art and culinary, but really, I am simply a man with an irregularity, or many.