hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Uncategorized - April 23rd, 2006

Jeans Distressed

Pengalaman pertama membeli kaos di Guess, mas penjaga toko bilang:

“Cuma kaos mas? Nggak nambah lagi? Nanti bisa dapat gift voucher Rp 250.000 lho”

“Saya harus nambah berapa?”

“Mmmm, belanja minimal 1,5 juta”

Hohohoho, kok banyak? Sempat kepikiran… 1,5 juta itu beli baju berapa banyak ya? Tapi, ternyata di toko itu, menghabiskan 1,5 juta cukup mudah. Satu celana jeans yang paling simpel harganya sudah 1 juta.

Tapi itu ternyata belum apa-apa. Di toko lain, celana jeans Juicy Couture dibandrol mulai dari 1,7 juta, sementara jens distressed merek dSquared (lengkap dengan saku belakang yang belum dijahit) malah bisa 5,4 juta satu potong.

Padahal kalau diperhatikan, celana-celana mahal ini terlihat seperti rongsokan. Sudah belel, birunya pudar, ada lubang dimana-mana pula. Kalau disumbangkan kepada Yayasan Bencana Aceh, jeans-jeans ini mungkin akan langsung dibuang karena tidak layak pakai.

Aneh ya? Malah biasanya, kisah tadi akan diserempetkan sebagai ‘pertanda kiamat’.

Tidak juga ;)

Setiap benda itu harus memberikan manfaat kepada penggunanya. Jeans distressed yang sobek-sobek memberikan manfaat membuat penggunanya terlihat mahal dan trendy. Otomatis yang beli pun cuma orang yang mampu dan yang mengikuti mode. Sementara itu, saudara kita di Aceh lebih memerlukan pakaian yang bersih, rapih dan sukur-sukur melindungi badan dari cuaca yang tidak ramah manusia. Jelas-jelas jeans distressed tidak memenuhi kriteria tadi.

Terlihat kalau dua kelompok tadi memang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, dan barang yang cocok buat kelompok pertama belum tentu cocok bagi kelompok kedua. Dan demikian juga sebaliknya.

Jadi dunia belum mau kiamat. Eh maksudnya: harga jeans distressed yang selangit belum menunjukkan korelasinya sebagai sebuah pertanda kiamat.

10 Comments

  • dodi

    ghywkakakak!

    bayangkan! hanya untuk celana!
    hiks.

  • R. Topan Berliana

    Nilai dari suatu barang, secara ekonomi memang tidak semata ditentukan nilai “riil” dari barang tsb (misalnya terbuat dari bahan murah atau mahal dst), tapi lebih ditentukan oleh persepsi dari pembeli, sehingga ketemu (deal) antara pengorbanan yang dilakukan pembeli dan permintaan yang diinginkan penjual.

    Dalam hal ini, mungkin jins hancur lebur itu memiliki nilai sendiri oleh kalangan tertentu, sehingga nilainya jadi tinggi.

    Sama kayak majalah playboy. Karena sangat diminati oleh masyarakat, maka orang rela mengeluarkan lebih untuk itu, dan nilainyapun meningkat (kabarnya sampe 100-an dolar dilelang).

    CMIIW.

  • Antony Pranata

    Herman, itu di Guess Yogya yah? Saya gak bisa bayangin jual jeans 1.5 juta di Yogya. Apa ada marketnya gitu?
    Saya sendiri sudah 6 tahun meninggalkan Yogya, jadi tidak tahu kondisi terakhir di sana.

  • Oh enggak, itu Guess di Jakarta. GUess Jogja kayaknya gak berani jualan jeans. Masih terlalu kemahalan buat orang Jokja. Hehehe.

  • Anonymous

    Duit segitu bisa buat DP RSSS.

    Makan tuh Merk hi hi hi hi…

  • r3brina

    Gokil!….
    Dulu gw kerja sebagai PNS dengan gaji kurang dari satu jeti perbulan… gimana caranya beli celana semahal itu… nasib nasib…!

    Eh iya.. salam kenal mas.. aku pernah buat postingan berisi blogmu… kalo nggak salah tentang si tukang ayam sesat wong solo…!

  • fanani

    kalau true religion kuwi piro yah regane ..

    sing neng lirikke black eyed peas kae ..

  • Anonymous

    HostingTarget, memberikan web template gratis untuk setiap paket hosting.Dgn 50rb/bulan anda bisa dapatkan web site profile untuk perusahaan, organisasi, maupun anda.Dilengkapi CMS, anda tidak perlu repot mengupdate.Dengan fitur, WYSIWYG what you see is what you get, semua terasa mudah..hubungi hostingtarget segera

  • dian decante

    ***Aneh ya? Malah biasanya, kisah tadi akan diserempetkan sebagai ‘pertanda kiamat’***

    kakakkkak…pasti sering dapat email berantai tanda2x kiamat. gue sering, man

  • Mel-Sabella

    guess…ya mahal,,,beli aja di pasar pasar…kan murah :P


Leave a Reply