March 20th, 2006
Menolak RUU Anti Pornografi

RUU APP diperlukan untuk mencegah kerusakan moral!
Ketika kita berbicara tentang undang-undang kita berbicara tentang negara. Ketika kita berbicara tentang negara kita berbicara seluruh rakyat Indonesia. Disini kita perlu kembali bertanya, moral yang mana yang dimaksud? Dan yang paling penting, apakah moral yang dianut oleh sebuah golongan harus dipaksakan kepada 240 juta penduduk Indonesia lain? Bukankan sangat tidak bermoral ketika kita memaksakan kehendak kita ke orang lain? Apakah negara harus mencampuri urusan pribadi warganya dengan dalih moral dan agama?
RUU APP meningkatkan harkat perempuan! Sebagai perempuan saya merasa risih melihat perempuan lain berpakaian seronok!
Yang berpose sana kok yang risih situ? Mana yang lebih menghargai perempuan? Mengatur bagaimana perempuan harus berperilaku dengan undang-undang (bahkan sampai mengatur cara dia berpakaian)? Atau membiarkan perempuan menjadi manusia bebas dan memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang terbaik buat dirinya?
Tapi RUU APP itu perlu untuk mencegah kejahatan seksual!
Tidak pernah terbukti secara empiris kalau pornografi menyebabkan perkosaan atau kejahatan seksual lain. Malah, dalam sebuah penelitian terbatas (ie: tidak empiris) di Jepang (yang pornografinya malah cenderung violent), tingkat kejahatan seksualnya sangat rendah dan cenderung menurun.
Tapi ada kakek tua memperkosa balita setelah melihat VCD Inul ngebor!
Tapi jutaan penduduk Indonesia yang lain tidak memperkosa balita setelah melihat VCD Inul. Apakah Inul harus kehilangan hak ekspresinya karena ada 1 orang bermasalah dari jutaan orang?
Berarti balita yang diperkosa tadi tidak penting karena minoritas?
Bukan tidak penting, tetap penting, cuman seharusnya yang bermasalah-lah yang harus diperbaiki. Dalam kasus ini adalah kakek tua tadi.
Saya mudah terangsang sehingga sering ereksi kalau melihat wanita berpakaian seksi di mall!
Itu masalah anda. Mohon jangan membuat orang lain menanggung masalah anda. Terima kasih.
Saya tidak ingin anak saya melihat gambar porno.
Ini mungkin adalah esensi dari RUU APP yang seharusnya: mengatur audience sebuah gagasan yang dianggap porno. Kalau sebuah majalah dianggap porno, maka yang dapat mengakses itu adalah orang-orang yang sudah pada umurnya. Bukan berarti kalau tidak pantas dlihat balita berarti juga tidak pantas dilihat oleh ibu-ibu dewasa.
Anggota DPR, mohon batalkan RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi. Dari uraian saya, tentunya terlihat jelas kalau sama sekali tidak ada alasan untuk membuat UU Anti-Pornografi. Mungkin, yang diperlukan adalah UU yang mengatur distribusi materi yang dianggap porno.
- Petisi Menolak RUU Anti Pornografi
- Uraian saya sebelumnya tentang RUU Anti Pornografi
- Jiwamerdeka, blog yang menolak RUU Anti Pornografi





I regard that mind is meant to be free and moving mind to mass is a destiny. I can be geeky when it comes to movies, art and culinary, but really, I am simply a man with an irregularity, or many.