hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for August, 2005

August 27th, 2005

sHa, Hoax dan Anonimitas

Sejujurnya saya tidak begitu getol mengurusi kasus misterius Natasha Anya, walaupun sepertinya sukses meraih perhatian sebagain orang dari berbagai masalah yang lebih riil. Seperti masalah krisis keuangan Indonesia babak II, atau MoU Helsinki atau gerakan ’separatis’ Papua.

Saya sendiri tidak yakin kalau sHa benar-benar ada karena tidak ada bukti yang mengarahkan sebaliknya. Tapi kalau sHa benar-benar tokoh imajiner, saya akan sangat menyayangkan hal tersebut.

Kenapa? Karena bangsa indonesia sedang dalam masa pembelajaran terhadap apa yang disebut Internet. Kita tidak dapat menyangkal bahwa peran teknologi akan demikian besar di masa depan, dan penguasaan atasnya akan sangat berpengaruh terhadap masa depan kita.

Hal-hal seperti ini (kasus Natasha Anya) membuat orang menjadi orang awam berprasangka buruk terhadap internet, dan imbasnya penetrasi internetpun menjadi lambat.

Sebagai seorang pengguna internet yang baik, seharusnya kita lebih bertanggung jawab dengan tidak mengeskploitasi anonimitas internet untuk hal-hal yang remeh (atau malah merugikan), seperti berpura-pura menjadi orang lain atau membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab di internet dengan memanfaatkan anonimitas internet (contoh: menghina Soekarno, tapi tidak menunjukkan identitas riil-nya).

Anonimitas internet seharusnya tidak dipakai untuk menjadi pengecut.

August 26th, 2005

Perangkap Tikus

Kalau anda penggemar Agatha Christie, mungkin anda pernah dengar play (pertunjukan teater) Agatha Christie yang berjudul Mousetrap.

Saya pertama kali mendengar play ini dari pegawai perpustakaan saya sewaktu SMA. Saya sendiri sudah lupa nama pegawai perpustakaan itu, tapi judul play tersebut masih terngiang di telinga saya. Kenapa? Karena menurut si ibu pegawai perpustakaan itu Mousetrap adalah pertunjukan yang memegang rekor sebagai play yang paling lama dipentaskan di West End, London sejak 1952. Waktu itu adalah tahun 1997.

Pertunjukan ini memang sangat misterius (terutama bagi kita-kita yang tinggal di belahan selatan), karena Agatha sendiri meminta dalam surat wasiatnya agar script pertunjukan ini tidak dibukukan, hingga pertunjukan Mousetrap di West End selesai.

Dan hingga saat ini, Moustrap masih di pentaskan di teater St Martin’s, West End, London. Dengan kata lain sudah dimainkan setengah abad lebih. Sebuah angka yang fantastis karena mengalahkan show musical yang lebih glamor seperti: The Phantom of The Opera, Cats, dan Les Miserables.

Saya sendiri belum pernah melihat play ini sih, tapi tentunya saya akan nonton pertunjukan ini kalau saya melancong ke London.

August 20th, 2005

Bagi bisnis, apakah segalanya tentang uang?

Ada sebuah pemikiran yang cukup konvensional dimana kesuksesan sebuah bisnis itu dihitung dari kinerja keuangannya. Gampangnya, sebuah perusahan itu baik atau buruk dilihat dari banyak uang masuk (ini adalah penyederhanaan tentunya, intinya semua tentang uang, uang dan uang).

Semua tentang uang, uang dan uang atau ?
Data finansial sebagai acuan kinerja, walaupun sudah diakui secara universal, kurang mencerminkan kinerja keseluruhan sebuah organisasi. Ini karena data finansial adalah data historis yang tidak mencerminkan apa yang sedang terjadi pada saat ini dan masa datang. Organisasi yang sangat mengacu pada data ini cenderung melakukan keputusan strategis yang financial-oriented yang kebanyakan memang menguntungkan dalam jangka pendek.

Misalnya perusahaan A, karena ingin mengejar laba tinggi, akhirnya memangkas dana pengembangan SDM dan mengabaikan proses kerja ideal agar target-target keuangan tercapai. Walaupun produk yang dijanjikan dapat di-deliver kepada konsumen dengan baik (ie.: sesuai waktu yang ditentukan dalam kontrak), tetapi karena produk yang disajikan kurang memuaskan (mungkin, karena produksinya asal) dan orang marketingnya jadi gak ramah dengan klien karena keseringan ditekan atasannya, imbasnya konsumen menjadi kecewa. Konsumen kecewa berakibat dengan turunnya kepercayaan konsumen terhadap perusahaan A, dan akhirnya jumlah pemintaan atas produk perusahaan A menurun.

Hanya karena untuk mengejar kesuksesan finansial dalam jangka pendek, dalam jangka panjang perusahaan tersebut merugi karena nilai aset-aset intangible mereka menurun.

Ternyata uang bukan segalanya
Ada sebuah metoda baru untuk melihat kinerja perusahaan, yaitu alih-alih menggunakan satu sudut pandang (finansial) untuk mengukur kinerja, beberapa perusahaan menggunakan empat buah sudut pandang, yaitu:

  1. Sudut Pandang Finansial (uang bukan segalanya, tapi tetap adalah bagian dari segalanya ;)
  2. Sudut Pandan Konsumen
  3. Sudut Pandang Proses Bisnis
  4. Sudut Pandang Pembelajaran dan Pengembangan SDM

Sudut pandang konsumen mengukur kinerja berdasar kepuasan dan kepercayaan konsumen sementara sudut pandang proses bisnis melihat kinerja berdasar proses bisnis internal, seperti lama perusahaan untuk memproduksi produk Y, workflow kerja divisi B, standar produksi divisi C, dll. Sudut pandang pembelajaran dan pengembangan SDM, tentunya sudah jelas.

Metode ini disebut dengan Balanced Scorecard, dan topik tentang ini dapat anda dapatkan cukup dengan googling sebentar atau melihat di Wikipedia. Kalau anda membutuhakan referensi yang lebih luas, di toko buku ada banyak buku tentang ini.

Tentunya posting ini cuma ujung dari gunung es, karena topik Balanced Scorecard itu lebih luas daripada tulisan saya. Tapi setidaknya sesekali mengingatkan kalau dalam bisnis modern, kesuksesan tidak dihitung dari angka dalam neraca rugi-laba.

August 19th, 2005

Saatnya lebih tegas dengan pegawai TU

Pegawai TU, menurut hemat saya, susah untuk dibilang orang-orang yang baik. Hampir 100% pegawai tu adalah orang orang underpaid yang tidak menghargai orang yang menggaji mereka tapi di lain sisi mereka mengembangkan aura arogansi, terutama karena mereka memiliki akses ke birokrasi. Sudah tidak terhitung berapa kali harga diri saya dan rekan-rekan kuliah menjadi obyek dan korban arogansi pegawai TU, terutama bagian pengajaran.

Mungkin kita perlu sedikit mengingatkan para pegawai TU ini, bagaimana meraka bisa naik motor dengan enak, bisa menyekolahkan anaknya, membiayai rumah sakit kalau sakit, dan bisa makan sehari tiga kali.

Untuk itu kita perlu melihat induk dari semuanya: bagaimana mereka digaji.

Pendapatan negara dan hibah dalam RAPBN tahun 2006 direncanakan mencapai Rp539,4 triliun, Rp402,1 triliun dari pajak dan sisanya dari penerimaan bukan pajak dan hibah.

Betul, 74% pendapatan negara akan didapat dari pajak, sisanya dari minyak, BUMN dll. Tujuh puluh empat persen ini berasal dari PBB, Pajak Penghasilan, PPN, Cukai dll. Jadi setiap kali anda membeli rokok, makan di KFC, makan di warung dan gaji anda dipotong pajak, setidaknya anda menyumbang 74% gaji para pegawai TU ini.

Tapi apa yang kita dapatkan? Pelayanan yang ketus, lambat, dan tidak menyenangkan. Belum ditambah nasehat-nasehat tidak relevan yang sering mereka berikan kepada para mahasiswa. Padahal kita sudah mendanai hajat hidup mereka lho. Mulai dari menyekolahkan anak mereka sampai membuat asap dapur mengepul.

Menurut saya ini bukan sebuah deal yang fair.

Sejujurnya, kami para mahasiswa tidak mengharapkan pelayanan sekelas hotel berbintang. Sebuah pelayanan yang ramah dan helpful sebenarnya sudah sangat cukup.

August 18th, 2005

Malu, Monas, Proklamasi dan Kemurnian Sejarah


Mari kita definisikan malu.

Malu itu celana melorot pas lagi ngecengi cewek cakep. Malu itu jatuh tersandung pas kita lagi berusaha tampak cool. Malu itu lupa tidak mengancingkan celana sehabis kentjing di toilet umum (syukurlah baru terjadi 3 kali).

Satu lagi, malu itu kalau kita sudah terlanjur sok tahu ke orang-orang kalau upacara detik-detik proklamasi 17 Agustus akan diadakan di monas, padahal ternyata itu baru wacana dan baru akan direalisasikan tahun depan (jika jadi).

Saya terlanjur kelewatan mendemonstrasikan luasnya pengetahuan umum saya ke teman-teman saya kalau upacara detik-detik proklamasi tahun ini akan diadakan di lapangan monas. Cukup nggonduk juga sih setelah liat di TVRI kalau ternyata akan mulai direalisasikan tahun depan.

Terlepas dari saya malu atau tidak, tentunya inisiatif ini akan menjadi sebuah perubahan yang menarik. Selain menjaga agar sang merah putih yang original tidak terlalu sering dipindah dari Monas-istana negara, tentunya akan merubah aura upacara detik-detik proklamasi yang semula tertutup, eksklusif dan istana-centric; menjadi sebuah event publik yang terbuka dan alun-alun-centric.

Tapi pindah ke Monas bukannya tanpa resiko. Selain nyawa presiden dan tamu bisa menjadi taruhan… Diorama Monas di Museum Sejarah Indonesia, juga ternyata mengandung banyak deviasi atas kebenaran sejarah, seperti tidak adanya hari kelahiran Pancasila (diganti hari kesaktian Pancasila) dan hilangnya peran Sukarno, yang jelek atau baik memiliki peran penting dalam sejarah. Jika upacara jadi diadakan di monas, rasanya seperti ada ironi (atau paradox?), karena di satu sisi kita merayakan proklamasi dan di sisi lain tempat kita merayakan proklamasi mengandung pemuntiran sejarah.

Sebenarnya sudah ada desas-desus untuk memperbaiki diorama dan areal Monas. Jadi, kita tunggu 17 Agustus 2006 untuk melihat format baru perayaan proklamasi lepasnya Indonesia dari Belanda.

August 16th, 2005

17 Agustus dan Nasionalisme

Kalau soal 17 Agustus-an, saya bisa dibilang paling parah.

Saya belum pernah ikut apa yang namanya lomba-lomba tujuhbelasan. Sudah 8 tahun saya tidak memasang bender merah putih. Tirakatan 17 Agustus pertama saya itu setahun yang lalu, itupun gara-gara ikut KKN.

Tapi jangan salah, saya tetap penggemar berat 17 Agustus (atau setidaknya pernah). Saya selalu terpesona bagaimana para Paskibraka bisa mengerek bendera dengan kecepatan sama dengan lagu Indonesia Raya. Tapi favorit saya tentunya para Paskibraka cewek yang bisa menuruni tangga mundur.

Yang menarik justru sepertinya 17 Agustus menjadi relevan dengan nasionalisme. Memang bukan barang baru sih, orang Indonesia lebih menghargai segala sesuatu secara simbolis (ie: lebih penting terlihat rajin sholat daripada berakhlak baik, padahal keduanya sama penting). Tapi tidak suka 17 Agustus tidak berarti tidak nasionalis. Dan Nasionalis tidak berarti tidak suka 17 Agustus.

17 Agustus cenderung menjadi event yang membosankan, terlepas betapa pentingnya kejadian tersebut 60 tahun yang lalu. Bagaimana tidak? Dari dulu selalau sama saja, mulai dari tirakatan, upacara bendera, lomba-anak-anak sampai pentas seni. Sebagai orang yang tidak pernah ikut acara seperti itupun sepertinya sudah sangat membosankan. Mungkin 17 Agustus perlu dikemas dengan cara yang sedikti berbeda sehingga bisa meng-appeal segmen audience yang lebih luas. Rinso dan sabun Lux saja sudah berganti kemasan beratus-ratus kali, kenapa acara 17 Tahun Agustus tidak? Padahal makna dan value yang tersimpan dari event ini jauh lebih luas, daripada sebatang sabun Lux (termasuk yang berhadiah jalan-jalan bersama bintang).

Saya rasa acara 17 tahun adalah bagian dari budaya, dan tidak dapat dipungkiri budaya itu dinamis dan senantiasa berubah. Ketika tidak berubah tentunya akan menjadi sejarah. Apakah perayaan 17 Agustus akan menjadi sejarah?

Semoga tidak.

August 14th, 2005

Books Baton dari Bapak Irfan

Books Baton dari Bapak Irfan:

Jumlah bukuku:
Sebentar…. tak itung dulu. Cuma satu yang beli sendiri.

Yang terakhir dibaca (sampe selesai):
Harry Potter and the Order of Phoenix (guwe banci Harry Potter)

Yang terakhir dibeli:
Harry Potter and the Order of Phoenix

Apa 5 buku yang menurutku bagus dan recomended?
Harry Potter and the Goblet of Fire, prolly the best book in Harry Potter series so far.
Harry Potter and the Chamber of Secrets, the second best book in Harry Potter series.
Strange Objects (Gary Crew), buku ini menyeramkan sekalee.
Matematika SMA 1a, 1b, 1c, 2a, 2b, 2c, 3a, 3b dan 3c; karangan Dra. Kartini, dkk.. IMHO buku pelajaran matematika yang paling bagus.
Tirai (Agatha Christie)

5 Temen Yang Mo Aku Bikin Benjol Juga?
Topan
Awal
Haris
Toni
Nofie Iman