hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

February 9th, 2010

Dari Cat Ba ke Lan Ha Bay

Pulau Cat Ba ditempuh melalui jalan darat yang panjang dan dua kali menyeberang laut memakai feri. Ketika Anda berangkat jam 1 siang, maka Cat Ba menyambut kedatangan Anda sekitar pukul 8 malam. Di atas feri Anda bisa bergumul langsung dengan orang-orang desa Vietnam, sementara jika langit sudah gelap dan kita cukup beruntung maka sesekali plankton-plankton yang memancarkan cahaya akan muncul sejenak di permukaan laut untuk kemudian hilang lagi.

Resor Cat Ba sudah hening pada pukul 8 malam. Masih ada kehidupan turisme di mana-mana, tapi mereka tidak menimbulkan suara dan kebisingan. Keheningan Cat Ba yang merata sungguhlah menyenangkan, apalagi di pagi hari.

Cat_Ba-Panorama

Daya tarik utama pulau ini adalah gugusan bukit-bukit karst di Ha Long Bay. Menelusuri teluk ini memerlukan waktu setidaknya 6 jam. Karena kami hanya punya 3 jam, maka mbak-mbak dari My Ngoc Tours menyarankan menyewa kapal sendiri menelusuri Lan Ha Bay, lalu mendarat sejenak di Pulau Monyet yang berpasir putih.

Saya bisa mencoba menceritakan keagungan Lan Ha Bay, tapi saya yakin akan gagal. Bentukan batu-batu tinggi bertabir kabut dan suara kapal mengiris lautan sedingin giok terlalu luas untuk dijejalkan dalam kata-kata.

February 8th, 2010

Perbedaan Hanoi

Rumusnya sederhana saja sebetulnya. Orang Utara mendendam Selatan karena mau bersekutu dengan Amerika, sementara orang Selatan jengkel dengan orang Vietnam Utara karena mendatangkan komunisme. Tapi rumus ini sudah menemui uzurnya. Dua pertiga populasi negara agraris ini lahir setelah 1975, mereka tidak lagi memperdulikan konflik kakek neneknya. Generasi ini mengagumi barat dan sibuk menjalani hidup.

Perhatikan jalan-jalan di Old Quarter Hanoi yang bergaya kolonial Perancis. Pada malam minggu, anak-anak muda menambah sesaknya jalan-jalan kecil kota tua itu. Cowok dan cewek berjalan-jalan gembira mengenakan pakaian keren dan trendy gaya desainer Italia. Beberapa dari mereka makan enak di warung-warung kaki lima yang meniupkan aroma melaparkan.

Hanoi mirip dengan Bandung dan Jogja, karena di kota ini ada banyak universitas terkemuka. Menjelang tahun ajaran baru, calon mahasiswa dan orang tua mahasiswa akan tumpah ke kota ini untuk mengikuti semacam SPMB.

Tepat di samping Old Quarter ada danau Hoan Kiem yang berarti “pedang yang dikembalikan”. Konon di sinilah Kaisar Le Loi mengembalikan pedang yang ia gunakan untuk mengusir penjajah dari negeri China kepada seekor kura-kura emas raksasa. Fragmen dari epos ini bisa ditonton di pertunjukan Wayang Air, atau lebih dikenal dengan Water Puppet Theatre yang lokasinya tepat disebelah utara danau ini.

Sedikit kontras dengan Old Quarter yang penuh lampu-lampu kecil aneka warna dan toko-toko yang unik; danau Hoan Kiem lebih sepi. Ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam yang tersisa adalah taman yang tenang dan dikelilingi pantulan-pantulan lampu motor. Bangku-bangku yang menghadap danau semua diisi oleh muda-mudi yang berpegangan tangan, bermesraan, dan—beberapa—berciuman.

Tidak terlihat preman yang memalaki atau pedagang yang mengurangi romantisme malam. Paling hanya kakek-kakek yang jogging di malam hari.

Akan tetapi pagi di Hanoi adalah sesuatu yang sedikit berbeda. Suasana tidak seperti malam hari yang hiruk pikuk, tapi penduduknya masih menyempatkan diri jajan di gang-gang kecil Old Quarter.

Karena harus segera kembali ke Jakarta, kami tidak sempat melihat-lihat semua toko-tokonya yang lucu, warung-warung yang baunya lezat, dan menelusuri semua trotoarnya satu persatu sambil berusaha memahami apa yang membuat mereka beda dengan Saigon.

February 5th, 2010

Nafas Komunis di Saigon

Bendera komunis di jalan

Lalu lintas di Saigon benar-benar gila. Lampu merah kehilangan derajatnya ketika motor dan motor tampak bergerak semaunya sendiri. Menyeberang jalan adalah neraka bagi turis-turis bule, walaupun bagi orang Indonesia ini hanya sedikit tidak beradab. Dan di jalan-jalan utama mereka, bendera-bendera merah dengan gambar palu arit itu berjajar tegak merayakan 80 tahun Vietnam.

Continue reading …

February 4th, 2010

Vietnam Morning

Saigon

Derau mesin-mesin motor tidak membuat Saigon pagi kehilangan denyut-denyut yang membuatnya hidup. Di taman kota, balita, remaja, dan orang tua berolahraga sambil menghirup udara pagi yang tidak berasa asap knalpot. Mereka dikelilingi jajaran gedung-gedung yang dicat pastel untuk menyembunyikan garis-garis kakunya, sementara jajaran pohon-pohon yang tinggi melengkapi garis-garis itu.

Continue reading …

February 3rd, 2010

Vietnamese Foods

Makanan bercerita banyak soal manusia dan budaya yang membungkusnya. Dari makanan akan kelihatan budaya bertani mereka dari sayuran yang digunakan, budaya berternak atau bernelayan dari lauknya, dan cara menikmati makanan lewat aroma bumbu-bumbunya.

Pho Bo

Setelah terdampar di Saigon dan panik kehilangan simcard Halo, kami mencicipi pho di perempatan jalan Pham Ngu Lau dan Cong Quynh. Ini memang pho terenak yang pernah saya cicipi, karena pho-pho berikutnya rasanya meleset jauh. Pho di warung Pho Quynh ini sempurna: kuahnya wangi, dagingnya empuk, dan mie berasnya yang licin enak banget diseruput panas-panas. Apalagi kalau ditemani kopi pahit Vietnam.

Pho Bo
Continue reading …

February 2nd, 2010

Vietnam Close-Ups

Most journey begins with a distance. When the yet to be discovered continent embarks its course, Colombus saw only a mere dot in the vast water surface.

This story starts in close ups and will unhurriedly take you back farther to see the big picture.

Vietnamese Cherry

Vietnamese cherry that made me drowsy

An artsy broom we met

One scoop of longan ice cream for two

Sheraton Saigon

Saigon from the 23rd

Corals

Corals at Monkey Island, Lan Ha Bay

Porcelain Street Markers in Hanoi

Highlands Coffee is Vietnam's Starbucks

Hanoi Street Sweets

Next is Vietnamese Foods.

February 2nd, 2010

Lima Tahun Ngeblog

Dua Februari, lima tahun silam, saya membuat janji ini:

This should be my first post on this blog. Here, you will find my personal rants, a tad of random thoughts, and some annoying quick-facts. Please note that this blog represents my very inner ego, which, quite frankly doesnt represents me in real life.

Anyway, have fun!

Herman

Syukur, hingga saat ini saya masih menulis keluh-kesah, pikiran-pikiran acak, dan fakta-fakta gak penting. Saya tidak bangga dengan ini, tapi saya bangga dengan warga komunitas online Indonesia yang sudah memanfaatkan medium internet untuk membuat perubahan-perubahan besar lewat social-media.

Kita memang telah melalui jurang dan bukit. Ketika UU ITE digolkan dan menulis di internet dipidanakan, kita melewati jurang. Tetapi itu bukan apa-apa ketika kita telah mengumpulkan koin untuk mendukung Prita, ketika Facebook digunakan untuk membela yang teraniaya, ketika blog digunakan untuk menggalang kepedulian terhadap korban bencana, ketika masyarakat twitter mengawasi jalannya sidang Pansus Bank Century, ketika Prita dinyatakan tidak bersalah, ketika 1500 blogger Indonesia berkumpul sebagai satu bangsa. Jurang kita tidak sedikit, tetapi puncak-puncak yang terlewati jauh lebih tinggi.

Jika Anda berkenan, saya mohon doa restunya agar bisa ngeblog lima tahun lagi saja supaya bisa menjadi saksi atas hal-hal besar yang akan Anda lahirkan.

Herman