Bella Swan memang memiliki selera romansa yang ekletik. Setelah ditinggal oleh Edward Cullen—pacarnya yang vampir—supaya mereka tidak saling menyakiti (cerita yang familiar sekali), Bella menjadi frustasi. Untunglah ada Jacob Black yang hangat sehingga Bella bisa melupakan Edward (juga sangat familiar). Jacob, yang merupakan penduduk asli desanya Bella, ternyata setali dua uang dengan vampir.
Cewek-cewek—kemungkinan besar—bakal menyukai New Moon karena inilah kisah romans yang susah mereka dapatkan. Cowok-cowok akan membencinya, karena ini adalah kisah romans yang tidak mungkin kami lakukan.
Jika saya boleh jujur, New Moon adalah perbaikan yang lumayan dari Twilight. Memang benar bahwa film ini mengandalkan narasi visual, dan bukan karakter maupun akting, tetapi minusnya adegan heroik dan lebay membuatnya menjadi film yang biasa-biasa saja, bukan film jelek.
Ada banyak hal yang diharapkan masyarakat dalam pernyataan SBY semalam. Pertama adalah menghentikan kasus Bibit-Chandra (entah bagaimana caranya, presiden dan tim ahlinya pasti punya solusi yang lebih baik); dan kedua memberhentikan petinggi-petinggi Polri dan Kejaksaan yang “bermasalah”.
Harapan pertama dipenuhi dengan samar-samar melalui sound bite malam ini:
Opsi lain yang lebih baik yang dapat ditempuh adalah pihak kepolisian dan kejaksaan tidak membawa kasus ini ke pengadilan—detikcom.
Sementara itu, harapan kedua tidak dipenuhi, bahkan secara implistpun. Bayangkan saja ribuan rakyat menonton TV, siap melihat tokoh antagonis dibinasakan, dan tiba-tiba pahlawannya meneriakkan “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh” lalu disambung “Sekian”.
Ada sebuah resiko ketika presiden memberhentikan seorang pejabat karena tidak sesuai dengan kehendaknya, karena akan selamanya itu tercatat dalam sejarah.
Tentu saja, kita memaknai pemberhentian itu dengan pas, karena kita mengerti konteksnya.
Tapi generasi depan tidak. Kejadian ini bisa dimanfaatkan menjadi argumen presiden di tahun-tahun ke depan untuk membenarkan tindakan serupa, tapi dalam dalam konteks yang tidak tepat. Atau lebih buruk lagi: untuk melindungi kepentingannya sendiri.
Tentu saja, presiden masa depan yang baik akan menggunakan preseden itu untuk hal bagus, tetapi apakah tidak ada jalan lain yang lebih aman? Seperti misalnya melakukan pendekatan balik layar ke kejaksaan/polri untuk menghentikan kasus ini sehingga sejarah mencatat Kejasaan atau Polri menghentikan kasus ini karena buktinya kurang.
Saya senang sekali dalam hari-hari ini, karena tiba-tiba masyarakat begitu peduli mengikuti proses hukum negara ini.
Tentu saja, nantinya—pelan-pelan—kasus ini akan dikupas, dan—pelan-pelan—akan semakin pedih. Beberapa dari kita mungkin akan kecewa dengan hasilnya, karena bisa saja ini tidak sehitam-putih yang kita kira; atau minimal orang-orang ternyata tidak berlaku hitam putih.
Tapi nggak masalah, bahwa kita semua jadi terlibat dalam proses politik ini adalah sebuah sekolah penting bagi bayi demokrasi gendut bernama Indonesia.
The Greatest Concert That Never Was—konser terhebat yang tidak akan pernah dipentaskan.
Ada rasa miris ketika melihat “Michael Jackson This is it” di bioskop: konser ini telah disiapkan dengan sempurna dan terpaksa harus batal lantaran bintang utamanya Michael Jackson menemui ajalnya pada tanggal 25 Juni lalu. Melalui teknik editing yang rapih, sang Sutradara Kenny Ortega mengemas potongan-potongan rekaman gladi bersih MJ menjadi seperti sebuah konser betulan.
Tentu saja gladi bersihnya tidak sempurna 100%, tapi untuk seniman sekaliber MJ, tampil 40% saja sudah bagus banget. Dan apa ya … gerakannya enteng dan tarikan suaranya natural, bukan hasil hapalan.
Gayanya mengarahkan tim-nya juga bisa menjadi sorotan khusus, MJ cenderung menggunakan kata sederhana untuk mengarahkan timnya. Seperti ketika mengarahkan music directornya dalam menggarap The Way You Make Me Feel, MJ berkata “let it [the music] simmer”—biarkan musiknya matang pelan-pelan—maksudnya temponya jangan terburu-buru dinaikkan.
Kalau Anda suka lagu-lagunya Michael Jackson, ini adalah konser farewell terakhir dia. Sedih memang harus kehilangan musiknya, apalagi melihat stamina Michael yang nampak kurang tenaga di bagian-bagian akhir film ini.
Adalah Roy Suryo yang pertama kali bilang kalau blog adalah tren sesaat. Hari ini Ndoro Kakung sepertinya mengamini postulat “tren sesaat” tersebut. (Eh iya kan Ndoro? )
“Blog” tiga tahun yang lalu berbeda dengan “blog” detik ini. Beberapa blogger sudah lama tidak nulis, blogwalking jarang, rss reader sepi. Itu fakta. Tapi kemanakah mereka?
Siapapun yang sering main ke Plurk atau Twitter; atau Facebook; pasti tahu kalau sebagian “keributan” blogosfir pindah ke sana. Apakah mereka ngeblog?
Itu tergantung bagaimana kita melihat “blog”. Jika blog hanyaalah sekedar mesin buku harian yang bisa dikomentari, maka mereka tidak ngeblog.
Tetapi jika kita melihat blog sebagai sebuah semangat untuk mengutarakan pikiran dan menguasai suara publik, maka sebetulnya para Plurk-er, Twitter-er, Facebook-er; sedang dan sangat sibuk ngeblog. Seperti ketika Om Nukman membuka konsultasi bisnis online di twitter, dan seperti ketika Pitra Media Ide membuka sesi tanya jawab tentang blog, juga di Twitter. Pada saat ini juga Sofie kartika sedang membuka sesi tanya jawab tentang isu gender, lagi-lagi di Twitter. Yang saya rasakan, semangat berbagi ini malah lebih masif daripada 2-3 tahun yang lalu.
Mesin blog memang berevolusi, tapi spirit ngeblog telah jauh melesat.
Walaupun hari-hari ini adalah kali ketiga kita merayakan Pesta Blogger dan memperingati Hari Blogger Nasional, sebetulnya saya masih was-was dengan masa depan para narablog.
Blog di Indonesia sebetulnya sudah lebih dari diary yang bisa ditulis-tulis. Walaupun yang isinya tentang diary tetap banyak, tapi banyak juga yang menggunakan blog untuk menyuarakan perasaannya, baik tentang anggota DPR, menteri, rumah sakit, jalan, toko, tempat makan, operator seluler dan banyak lagi.
Ketika menulis tentang itu, sebetulnya blogger ada dalam posisi terancam. Pertama karena kebanyakan dari kita tidak memiliki beking legal yang mantap; kedua karena pasal-pasal karet di KUHP; dan ketiga karena pasal-pasal di UU yang lain. Jika poin dua dan tiga digabung, maka blogger yang minim dukungan legal bisa dijerat dengan ayat yang berlapis-lapis.
Pasal-pasal apa saja?
Mas Anggara yang saya temui di Pesta Blogger kemarin, sempat cerita kalau selain RUU Rahasia Negara yang bermasalah itu, akan digodok pula RUU CyberCrime, yang diduga juga akan memuat pasal-pasal yang jusru tidak memberikan kepastian hukum bagi orang seperti kita. Gabungkan itu dengan UU Pornografi, UU ITE, dan KUHP; maka blogger akan sulit bergerak.
Oleh karena itu blogger masih harus terus kerja keras supaya “kemerdekaan” ini tidak dirampok. Tidak harus berdemo, teriak, mengumpat, melobi. Sekadar terus menulis, jujur, selalu crosscheck; sudah cukup. Ini memang remeh, tetapi jika keremehan ini dilakukan oleh ratusan ribu blogger bersama-sama, maka yang terjadi adalah agregat citra positif.
Selain itu blogger juga harus terus memperkuat jaringan silaturahim, karena dengan bergerak dalam satu kesatuan, blogger lebih susah diuyel-uyel. Itulah mengapa pertemuan akbar semacam Pesta Blogger sangat penting. Bukan untuk menyatukan atau menyeragamkan, tapi untuk merintis kerjasama. Yap, ini proses yang lama, tidak cukup satu dua tahun.
Saya senang bisa datang ke Pesta Blogger kemarin. Syukurlah 12001440 blogger tidak terkecoh dengan istilah “pesta”, karena sejatinya itu adalah konferensi blogger bergagasan besar, yang dikemas dengan istilah ringan; supaya tidak terdengar terlampau berat.
NB: Saya tempelin video di PB2009 tentang keragaman Indonesia: The Promise of One.
I regard that mind is meant to be free and moving mind to mass is a destiny. I can be geeky when it comes to movies, art and culinary, but really, I am simply a man with an irregularity, or many.Continue »