Selama perjalanan menuju bioskop, saya tahu, saya menonton Iron Lady bukan karena tertarik melihat biografi Margaret Thatcher. Saya ke bioskop dengan harapan dikejutkan sekali lagi oleh Meryl Streep.
And she did.
Meryl selalu membawakan peran yang baru untuk tiap karakter yang ia mainkan. Di detik-detik pertama Iron Lady, kita langsung terkejut ketika menyadari wanita tua yang bungkuk itu adalah Meryl, memerankan Thatcher tua. Sebagai orang yang masih terlalu kecil untuk mengingat Thatcher ketika masih berkuasa, Meryl mengisi imajinasi itu. Ia membawakan kelembutan wanita dan juga kerasnya pendirian seorang pemimpin Thatcherian.
Akan tetapi film itu sendiri terasa seperti thatch—atap ijuk yang berlubang-lubang. Biografi Thatcher ketika berkuasa (dan akan berkuasa) dijalin dengan Thatcher masa kini yang pikun dan demensia. Walaupun mutakhir, gaya penuturan ini tidak disertai benang merah yang kuat. Alur cerita mengambang dari awal sampai akhir, seolah ingin menjadi biografi walaupun banyak dialognya adalah karangan si penulis skenario.
Di saat Indonesia sedang merindukan pemimpin yang kuat, Iron Lady seperti mengiming-imingi apa yang tidak kita miliki. Bagaimana tidak, Thatcher yang cuma perempuan anak pedagang kelontong bisa mengatur pria-pria DPR Inggris dengan penuh otoriter. Thatcher yang nasionalis, penuh ketegasan at-all-cost ketika perang Falkland, dan tidak peduli pencitraan seperti antitesis dari SBY yang peragu dan pencari jalan tengah dan pencitra.
Yang tidak ditekankan film ini adalah cost yang dibayar untuk menikmati ketegasan Thatcher. Kebijakannya yang membrangus serikat buruh, menjatuhan ratusan korban jiwa di Falkland, hingga pajak-per-orang yang musti dibayar miskin; hanya disinggung sambil lalu. Peran pajak-per-orang juga tidak ditonjolkan sebagai penyebab kejatuhan pemerintahan Thatcher.
Namun saya benar-benar menikmati dan kagum melihat akting Meryl. Gayanya berpidato dan memerintah sudah seperti Thatcher andai kata Meryl tidak kelewatan dramatis. Yang saya khawatirkan cuma satu, film ini memberi candu kepada generasi yang tidak mengalami era Thatcher. Candu akan pemerintah otoriter.
Setelah kunjungan pertama di Universal Studios Singapore dua tahun yang lalu, theme park ini sudah ketambahan tiga wahana baru: Madagascar, Battlestar Gallactica, dan Transformers. Semua terinspirasi dari film.
Seperti biasa, setelah berjalan menuju ujung Hollywood Boulevard kita bisa belok ke kiri untuk masuk ke Madagascar, atau ke kanan untuk menuju New York. Universal sengaja merancang jalur kiri untuk pengunjung anak-anak dan keluarga, sementara jalur kanan untuk pengunjung dewasa. Saya mengambil jalur kanan.
Transformers: The Ride
Di jalur kiri kita akan menemui wahana Transformers yang baru saja dibuka awal Desember 2011 lalu. Wahana ini membawa kita ke pertempuran antara Autobot dan Decepticon. Dengan menaiki robot EVAC, pengunjung diberi tugas untuk menyelamatkan elemen Allspark dari incaran Megatron. Dan tak lama kemudian markas NEST akhirnya diserang oleh Decepticon. Bersama Bumblebee dan Optimus Prima, Anda harus menyelamatkan Allspark diantara serangan rudal Megatron dan tenaga luar biasa Devastator.
Saya tidak akan membocorkan spoilernya, tapi ini adalah termasuk wahana theme park terbaik yang pernah ada. Dengan menggunakan teknologi proyeksi 3D high definition dan berbagai efek khusus, kita akan ditarik masuk ke dalam pertarungan robot-robot raksasa di antara rimba-rimba beton kota New York.
Wahana ini menggunakan teknologi lengan robotik KUKA yang juga digunakan untuk Harry Potter and Forbidden Journey di Universal Florida. Konon Universal memiliki hak eksklusif untuk memakai KUKA selama 10 tahun. Jadi Disney masih harus menunggu sampai 2017 kalau mau membuat wahana seperti Transformers.
Mungkin karena masih pagi dan saya di Universal pada hari Jum’at, maka antriannya cuma 5 menit. Di hari sibuk, antriannya bisa mencapai 90 menit. But it was worth it, dan anak-anak usia 5 tahun ke atas juga bisa ikut menikmati Transformers bersama orang tuanya.
Battlestar Gallactica
Rollercoaster berduel ini rusak dua minggu sebelum kunjungan pertama saya ke Universal. Setelah penyebab kerusakan itu ditemukan (tempat duduk rollercoasternya lepas), desain rollercoasternya diganti, dan diuji; 13 bulan kemudian wahana ini kembali dibuka.
Rollercoaster ini mengisahkan pertarungan antara manusia dan suku alien yang bernama Cylon. Dan sesuai namanya—duelling coaster—pengunjung akan diadu hingga nyaris tabrakan. Anda bisa memilih untuk menaiki Blue Track (alien) atau Red Track (manusia). Keduanya berbeda antrian dan berbeda kendaraan. Pada Red Track, penumpang akan duduk pada gantungan dan dibolak-balik. Sementara pada Blue Track, penumpang “cuma” duduk di atas kereta rollercoaster.
Saya lebih suka yang digantung (Blue Track), karena lebih seru dan menegangkan. Tsah! Yang kurang suka tantangan bisa naik yang duduk saja (Red Track). Menurut Universal, walaupun lebih konservatif, Red Track lebih kuat tarikan G-Force-nya. Tapi tetep, saya lebih suka Blue Track.
Antrian wahana ini sekitar 35 menit di hari Jum’at. Lebih lama daripada Transformers yang 5-15 menit.
Madagascar: Crate Adventure
Setelah memompa adrenalin di Transformers, Battlestar Gallactica, dan The Mummy; penelusuran di Universal Singapore berakhir di wahana Madagascar. Sebagai pendinginan, wahana ini oke juga sebetulnya.
Madagascar mengkombinasikan istana boneka dengan kisah Madagascar. Alex, Marty, Gloria, dan Melman menjadi hidup ketika penumpang masuk ke wahana ini menggunakan kapal. Kisah yang dibawakan, hampir sama persis dengan film-nya. Anak-anak akan menikmatinya, orang dewasa juga akan menikmatinya untuk merenggangkan otot yang letih ketika hari sudah mulai sore.
Dengan Tiga Wahana Baru
Dengan diluncurkannya tiga wahana baru sejak pertama dibuka dua tahun yang lalu, Universal Studios Singapore sudah sah menjadi theme park yang dapat dikunjungi sehari penuh. Tersedia pilihan thrill-ride yang memuaskan orang dewasa, dan diimbangi pilihan wahana untuk keluarga yang membawa anak-anak. Jika dibandingkan dengan Hong Kong Disneyland yang harga tiketnya hampir sama, Universal menawarkan hiburan yang lebih banyak untuk pelancong Asia Tenggara.
Yang menjadi masalah di Universal Singapura adalah tempatnya yang terlalu kecil, sehingga perpindahan dari area New York ke Sci-Fi City—misalnya—terasa terlalu mendadak. Hal ini tidak terjadi di Hong Kong Disneyland. Dan mungkin karena lokasinya di Singapura, theme park ini terasa kaku dan mengatur. Di Universal, kita tidak diperbolehkan memotret isi wahana, petugas akan selalu memperingatkan dan larangan itu ditulis di sepanjang antrian. Di Hong Kong Disneyland, kita bisa terang-terangan membawa kamera dan petugas bahkan tidak melirik.
Hong Kong Disneyland sangat asyik dikunjungi, namun untuk ongkos yang sama Universal Singapura menawarkan lebih banyak wahana. Hong Kong Disneyland akan lebih memuaskan seteleh Grizzly Rollercoaster dibuka tahun ini, dan rumah hantu Mystic Manor tahun 2013. Namun Transformers masih akan susah dikalahkan, sampai Disney membuat wahana dengan KUKA.
Awal tahun 1900-an sebuah topan besar di Kansas menerbangkan rumah si gadis cilik Dorothy Gale. Rumah ini mendarat di Oz, tepatnya di atas sang Wicked Witch of the East—Nenek Sihir dari Timur—dan menewaskannya. Kemudian datanglah Glinda—Sang Peri dari Utara—yang membimbing Dorothy menemui The Wizard of Oz supaya bisa kembali ke rumah.
Dibantu oleh Scarerow, Tin Woodsman, and Cowardly Lion, Dorothy akhirnya mengalahkan The Wicked Witch of the West—Nenek Sihir Dari Barat. Dan berkat kemampuan sihir sepatu merah rubi milik Nenek Sihir dari Timur, akhirnya Dorothy kembali ke rumahnya di Kansas.
Itulah kisah The Wizard of Oz yang juga difilmkan tahun 1939.
Musikal “Wicked” menceritakan kejadian sebelum Dorothy datang dari Kansas dan kejadian di baliknya. Elphaba, yang dilahirkan berkulit hijau, selalu menjadi bahan ejek-ejekan di Shiz University, termasuk oleh Glinda yang paling populer di kelas. Namun suatu hari, karena suatu kesalahpahaman, Elphaba dan Glinda menjadi sahabat dekat.
Kelak Elphaba akan menjadi The Wicked Witch of the West.
Karena kemampuan sihir Elphaba, ia dan Glinda diundang ke Emerald City oleh Wizard of Oz. Namun di sana, Elphaba menyadari kalau Wizard of Oz tidak memiliki kemampuan sihir. Sang Wizard hanya ingin memperalat kemampuan sihir Glinda. Sambil menyanyikan “Defying Gravity”, Glinda terbang meninggalkan Emerald City dan kedua sahabat itu berpisah.
Bagi penggemar Glee mungkin ingat pada season 1 Rachel dan Kurt pernah berduet menyanyikan Defying Gravity.
Setting pertunjukkan ini mengulang-ulang penggunaan motif jam, karena kisah Wicked memang merupakan flashback sejak matinya Elphaba oleh Dorothy. Jika dibandingkan dengan Phantom dan Lion King, set dan lighting Wicked memang terasa biasa. Demikian juga dengan kostumnya, masih terasa biasa dan repetitif.
Kekuatan Wicked memang pada dialog yang ngepop untuk melihat kisah Wizard of Oz dari sudut pandang tokoh antagonisnya. Elphaba bukan lagi villain yang satu dimensi, melainkan sosok yang terbuang oleh masyarakat. Demikian juga Glinda yang selama ini digambarkan baik hati, ternyata semula adalah gadis ambisius tapi agak dangkal.
Musikal ini tidak terlalu berat untuk dinikmati. Sang penggubah lagu, Stephen Schwartz memilih aransemen pop untuk Wicked. Sayangnya musik yang seharusnya menjadi kekuatan sebuah musikal, justru terasa kurang mengugah pada saat pertama didengarkan. Mungkin karena Jemma Rix yang memerankan Elphaba nampaknya kurang dalam menyelami karakter yang keras kepala dan penuh konflik diri. Seperti ketika membawakan Defying Gravity, titik tertinggi musikal ini masih terasa nanggung. Untungnya Suzie Mathers lebih terampil membawakan tokoh Glinda yang selalu positif, hingga kadang terlalu positif.
Sejumlah elemen musik lain cukup asyik dinikmati, seperti ketika David Harris yang memerankan Fiyero membawakan Dancing Through Life. Lagu ini juga menbawa kita ke awal mulai persahabatan Elphaba dan Glinda. Persahabatan ini kemudian diuji pada lagu I’m Not That Girl dan kemudian ditutup pada lagu For Good. Dengan segala kekurangannya, Jemma dan Suzie bisa membawakan harmonisasi yang cantik untuk lagi penutup itu.
Pertunjukan Wicked akan main di Marina Bay Sands, Singapura hingga Maret 2012. Nontonlah jika sempat. Musiknya akan semakin asyik setelah beberapa kali didengarkan, tapi hiburan utamanya adalah bagaimana kisah klasik The Wizard of Oz diputarbalikkan oleh Wicked.
Tangan Michael Camdessus, direktur IMF, bersedekap sambil mengawasi Soeharto yang menunduk menandatangani perjanjian IMF. Perjanjian itu memberikan dana bailout untuk Indonesia menghadapi krismon (krisis moneter), dengan syarat Harto harus menjalankan austerity: mengencangkan anggaran nasional.
Walaupun banyak ekonom dunia meragukan keampuhan austerity untuk pemulihan ekonomi, perjanjian itu juga menghapus monopoli, potongan pajak, subsidi yang hanya dinikmati oleh anak, keluarga, dan teman Harto.
Foto ini diambil 15 Januari 1998. Namun lima bulan kemudian kepercayaan ekonomi tak kunjung membaik dan diktator orde baru itu akhirnya jatuh setelah berkuasa 32 tahun.
Seorang pendeta Buddha membakar diri di jalan raya kota Saigon pada 11 Juni ’63. Ia, Thích Quảng Đức, memprotes penganiayaan umat Buddha oleh pemerintah Vietnam Selatan yang Katolik-Roma. Đức akhirnya meninggal dunia.
Pagi hari itu beredar kabar kalau akan ada kejadian penting di depan kedutaan Kamboja di Saigon. Tak lama kemudian, sekitar 350 biarawan dan biarawati berarak-arak datang. Mereka memprotes kebijakan pemerintahan presiden Ngô Đình Diệm yang mendiskriminasi umat Buddha.
Aksi bakar diri itu terjadi di perempatan jalan Nguyễn Đình Chiểu Street dan jalan Cách Mạng Tháng Tám.
Đức keluar dari mobil, ditemani oleh dua biarawan lain. Salah satu dari mereka meletakkan bantal di jalan, dan satu lagi membuka bagasi mobil kemudian menurunkan drigen berisi 5 galon bensin. Đức duduk dengan tenang. Ia mengambil posisi meditasi lotus di atas bantal. Kemudian seorang biarawan menuangkan bensin sampai habis di atas Đức. Lalu Đức memutar tasbih sambil mengucapkan doa pendek, menyalakan korek api dan menjatuhkannya.
Api berkibar, membakar jubah dan badannya. Asap hitam mengepul dari Đức.
Orang di sekeliling kejadian itu terkejut hingga hening, tapi beberapa menjerit dan beberapa berdoa. David Halberstam, jurnalis pemenang Pulitzer menuliskan:
Api itu memancar dari seorang manusia. Badannya mengering dan berkerut, kepalanya hangus dan menjadi arang. Udara penuh dengan bau daging manusia yang terbakar; manusia terbakar begitu cepat. Saya dapat mendengar suara orang-orang vietnam yang menangis. Saya terlalu terkejut untuk menangis, terlalu bingung untuk membuat catatan atau mewawancara, bahkan terlalu limbung untuk berpikir … Ia terbakar tanpa menggerakan otot sedikitpun, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, ia memancarkan ketenangan yang sangat kontras dengan tangisan yang mengelilinginya.
Jasad Đức dikremasi ulang namun jantungnya disimpan di pagoda Xá Lợi sebagai lambang welas asih seorang Buddha.
Di Vietnam Selatan tahun 1963, “Krisis Buddha” sudah panas sejak satu bulan sebelumnya. Saat itu sembilan warga tak bersenjata di kota Hué ditembak oleh tentara saat memprotes kebijakan pemerintahan Ngô Đình Diệm yang melarang pengibaran bendera Buddha.
Aksi Dúc memulai serangkaian kejadian demi kejadian yang bergulir seperti kartu domino, hingga akhirnya menjatuhkan kekuasaan presiden Ngô Đình Diệm. Jatuhnya Diệm kemudian berlanjut pada jatuhnya Vietnam Selatan ke republik komunis Vietnam Utara pada 30 April 1975.
Saya tidak tahu dan saya tidak bisa menjawab andai ditanya apakah aksi Đức adalah heroik atau menyia-nyiakan. Namun dari foto ini saya tahu, lalu kemudian menjadi ingat bahwa rakyat Vietnam Selatan pernah disia-siakan oleh negaranya sendiri hanya karena mereka menganut agama lain. Foto ini, dan aksi Thích Quảng Đức, tidak akan mengubah masa lalu. Tapi ia mengingatkan agar dosa masa lalu tidak berulang-ulang lagi.
Akhirnya Sherlock Holmes menemui padanannya. Dia adalah Profesor Moriarty, pria tua, dosen. Nampak lemah. Tapi dari cara Moriarty menatap, dan juga cara menggerak-gerakkan pensil, memberi kepastian kepada penonton bahwa sang profesor bisa melakukan hal-hal jahat dan tidak menyesalinya.
Tapi yang terburuk: hingga duapertiga film, kita tidak mengetahui kejahatan apa yang sedang diracik Moriarty.
Begitulah. Berbeda dengan tata krama alur cerita Hollywood yang fokus pada protagonis mencegah kejahatan sang villain, dalam Sherlock Holmes penonton bahkan tidak tahu kasus apa yang harus diselesaikan. Potongan-potongan kejadian nampak terjadi secara acak. Seperti ketika di awal film, saat femme-fatale-nya Holmes, Irene Adler mengirimkan paket kepada dr. Hoffmanstahl, sebagai alat tukar sebuah surat dalam amplop putih kecoklatan. Kejadian itu nyaris terasa tidak signifikan.
Alur gaya Guy Ritchie yang tidak pakem Hollywood ini berhasil menyegarkan bioskop dari film lain yang begitu-begitu saja.
Sayangnya, dialog Sherlock yang diperankan Robert Downey Jr. terasa tidak sesuai jaman, seperti menonton orang jaman sekarang berbicara dengan kostum tahun 1891. Downey juga tidak terlihat berusaha berlogat Inggris. Detektif kawakan dari 221B Baker Street itu telah menjadi Tony Stark dengan gaya busana bohemian, dan hidup di London kuno.
Namun selebihnya adalah istimewa. Seperti penggunaan teknik kamera modern dan reinterpretasi tokoh-tokohanya, sehingga generasi kita punya Sherlock Holmes yang kekinian. Satu yang tidak kekinian justru Profesor Moriarty diperankan oleh Jared Harris. Kompleksitas tokohnya yang tidak terlihat namun terasakan telah membuat Moriarty sahih sebagai villain yang lintas masa.
I regard that mind is meant to be free and moving mind to mass is a destiny. I can be geeky when it comes to movies, art and culinary, but really, I am simply a man with an irregularity, or many. Continue » Makalah seminar bisa diunduh di sini