hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

OpinionPolitik - April 8th, 2014

Susahnya menjadi pemilih di negara demokrasi

Anjuran tidak golput sebenarnya bukan karena golput itu tidak nasionalis atau tidak bertanggung jawab. Ketika tidak memilih, sebenarnya kita menyerahkan nasib kita ke orang lain. Pemerintah baru akan tetap terpilih, dan kebijakan mereka tetap akan mempengaruhi kita walaupun kita tidak memilih.

Oleh karena itu lebih baik ikut pemilu karena setidaknya kita berusaha menentukan nasib, daripada nasib kita ditentukan orang lain.

Seperti banyak hal dalam hidup, politik juga sistem yang susah ditebak. Sebagai rakyat negara demokratis, kita ditempakan dalam posisi harus membaca cermat situasi politik, karena pilihan kita akan mempengaruhi hidup setidaknya 5 tahun ke depan.

Menurut saya, ancaman indonesia ada di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Di masa lalu, kita ada bahaya laten orde baru dan mantan2 tentara yang catatan HAM-nya simpang siur. Di masa kini, kita menghadapi masalah korupsi yang masih saja sistemik. Di masa depan, kita juga terancam oleh masuknya hukum-hukum agama dalam aturan-aturan negara.

Jangan salah sangka. Agama adalah tuntunan hidup yang membawa damai. Akan tetapi ketika hukum agama menjadi hukum formal negara, masalahnya agak pelik. Bukan semata karena penafsiran hukum agama tidak kompatibel dengan pancasila lho. Namun juga karena “‘hukum agama” artinya macam-macam. Apakah yang dimaksud penafsiran hukum agama soal bersedekah? Ini bagus! Atau penafsiran hukum agama soal wanita boleh dipukul oleh suaminya? Ketika kita setuju hukum agama, sebetulnya penafsiran hukum agama yang seperti apa yang dimaksud? Dan bagaiman hukum agama dapat menyikapi masalah2 intoleransi yang akhir-akhir ini dibilang termotivasi oleh agama.

Kembali ke ancaman kepada Indonesia. Saya menangkap bahwa banyak pemilih yang sangat peduli dengan masalah masa kini: pemberantasan korupsi. Mereka ingin caleg yang bersih. Ini penting dan bagus! Akan tetapi, tidak berarti masalah masa lalu juga dilupakan. Dua jenderal yang punya catatan HAM yang belum jelas saat ini kembali mencalonkan diri menjadi presiden. Dan salah satunya cukup populer. Apakah mereka layak jadi presiden? Bagaimana jika misal caleg yang bersih dari Gerindra atau Golkar, namun capres yang kita inginkan ada di PDIP?

Ini yang saya sebut rumitnya menjadi pemilih. Jika kita memilih caleg Golkar (misalnya), maka di pilpres Golkar bisa mengusung capres yang akan jadi lawan capres favorit kita. Jikapun capres kita dipastikan menang, partai pendukungnya biasanya akan mencari koalisi supaya di DPR dukungannya solid. Nah, tentu saja partai koalisi ini meminta jatah menteri yang buntutnya menganggu independensi capres yang kita inginkan. Dan pertanyaan yang lebih sulit lagi: andai kita memilih partai capres favorit dan memilih capres favorit, apakah masalah korupsi akan terselesaikan?

Politik memang sistem kompleks yang tindakan aktor-aktornya sulit ditebak. Mustahil untuk memahami itu semua. Akan tetapi, kita memang tidak pernah bisa memahami semua hal. Mengatahui hubungan-hubungan antara pilihan politik itu lebih baik daripada tidak mengetahui sama sekali. Tapi sekali lagi: keputusan “memilih siapa di pemilu” memang sulit. Jika kita menuntut pemerintah bersikap tegas dalam mengambil keputusan sulit, mungkin ada baiknya kita juga bersikap tegas dalam memutuskan mau memilih siapa di Pemilu Legislatif 2014.

Caranya? Saya menyarankan membuat prioritas masalah Indonesia mana yang menurut kita paling urgen untuk diselesaikan. Bagi saya masalah masa lalu Indonesia—bahaya laten orde baru dan mantan2 tentara yang jejak HAM-nya kabur—adalah masalah yang paling urgen. Dari situ saya menimang2 anggota DPR mana akan saya pilih dan implikasi pilihan saya dalam Pemilu Presiden, koalisi DPR, menteri kabinet, dan juga bagaimana negara kita selama 2014 hingga 2019.

Politik - October 2nd, 2013

Government Shutdown

Ted Cruz membacakan dongeng sebelum government shutdown

Mulai 1 Oktober pemerintahan AS tidak beroperasi penuh, atau istilahnya government shutdown. Dampaknya, pelayanan pemerintah yang tidak esensial akan dihentikan dan 800.000 PNS federal akan dipulangkan tanpa gaji. Shutdown terjadi setelah DPR dan Senat (DPD) AS tidak bisa menyepakati APBN periode 2013-2014. Padahal pariode tersebut dimulai hari ini (1 Okt). Jika DPR dan Senat punya waktu satu tahun untuk menyusun APBN, kenapa hingga detik-detik terakhir tidak ada kesepakatan?

Masalah sebetulnya ada di pro-kontra undang-undang jaminan kesehatan Obama, atau biasa disebut Obamacare. DPR yang dikuasai oposisi ingin menjegal penerapan Obamacare. Minggu sebelumnya, DPR AS mencabut pendanaan Obamacare dari RAPBN 2013-2014. Namun ketika masuk ke Senat untuk divoting, RAPBN tersebut ditolak mentah-mentah. Ini tentu tidak mengejutkan. Berbeda dengan DPR yg dikuasai Partai Republikan yang oposisi, maka Senat dikuasai oleh Partai Demokratik yang merupakan benteng pertahanan kebijakan Obama.

Beberapa hari kemudian Senat menyusun RAPBN baru yang mempertahankan Obamacare dan mengirimnya ke DPR. Proses legislasi di Senat juga berlangsung alot. Untuk menunda proses voting, senator Republikan Ted Cruz pidato 18 jam non-stop. Bahkan pada pukul 9 malam, senator Texas itu mempidatokan dongeng anak-anak Dr. Seuss untuk putrinya.

Ketika RAPBN versi Senat masuk DPR, para wakil rakyat dari Partai Republikan memodifikasi RAPBN dengan menunda pelaksanaan Obamacare untuk satu tahun. Kemudian RAPBN tersebut masuk lagi di Senat pada hari Senin, 30 September. Dan para senator Demokrat kembali mempertahankan Obamacare. Sorenya DPR menyetujui RAPBN yang kembali menjegal Obamacare. Dan pukul 9 malam, Senat mempertahankan Obamacare untuk ketiga kalinya.

Oleh karena tidak ada kesepakatan hingga pukul 12, maka terjadilah government shutdown.

Dampaknya: Departmen Kehakiman akan menunda sidang sejumlah kasus dan Departemen Perumahan tidak bisa mendanai voucher perumahan masyarakat miskin. NASA, pelayanan paspor, taman nasional, dan museum Smithsonian akan tutup. Militer akan tetap beroperasi karena dianggap esensial. Polisi, transportasi publik, sekolah dan universitas negeri tetap beroperasi karena pendanaannya dari negara bagian. Namun penelitian di universitas mungkin akan tersendat karena dana hibahnya dikelola NIH dan NSF yang juga terkena shutdown.

Ada banyak alasan mengapa Republikan berhasrat menjegal Obamacare. Konsep jaminan kesehatan universal adalah hal yang masih asing di Amerika Serikat. Memelihara kesejahteraan bersama bukanlah ruh utama UUD negeri Paman Sam. Kedua, Partai Republikan, terutama faksi tea party, secara ideologis memang menentang konsep negara yang terlalu terlibat menjamin kesejahteraan umum. Mereka khawatir Obamacare akan membebani APBN AS yang kini hutangnya mencapai 75% PDB. Ketiga, seperti yang dikatakan Paul Krugman, faksi tea-party khawatir bahwa jika Obamacare berjalan, rakyat akan menyukainya, sehingga lebih susah untuk dibatalkan.

Bagi saya ini konyol, karena Republikan DPR menyandera APBN untuk kepentingan politisnya. Obamacare adalah undang-undang yang disahkan melalui DPR dan Senat; serta telah diuji keabsahannya oleh Mahkamah Agung. Mempertaruhkan operasional negara demi menjegal Obamacare adalah tindakan yang gegabah.

Indonesiana - May 21st, 2013

Suharto: Masih enak jamanku kan?

Suharto-Isih penak jamanku

Sejak 15 tahun lalu Suharto turun tahta, saya sering ketemu dengan orang-orang yang merindukan kondisi ekonomi jaman Suharto, dan menyesalkan kondisi jaman sekarang yang lebih buruk. Tapi apakah benar hidup di jaman Suharto lebih enak? Saya mencoba kumpulkan data-datanya:

  • Dolar lebih murah di jaman Suharto. Sebelum krisis moneter, nilai tukar dolar cuma Rp 2000. Akan tetapi pada saat krisis moneter, dolar mencapai Rp 16.000 di jaman Suharto.
  • Harga barang lebih murah di jaman Suharto. Menurut Deptan, harga beras di perkotaan pada tahun 1998 memang hanya Rp 958/kg, tapi pada jaman itu nilai UMR rata-rata cuma Rp 153.000. Sekarang harga beras memang naik sekitar 10 kali lipat jadi Rp 9000, akan tetapi UMR rata-rata juga naik sekitar 10 kali lipat: Rp 1.434.000.
  • Cari pekerjaan lebih gampang di jaman Suharto. Angka pengangguran 1998 saat Suharto ada di 5,46%. Angka pengangguran 2013, lima belas tahun kemudian ada di 5,92%.

Dari angka-angka tersebut, nampaknya situasi ekonomi jaman sekarang tidak berbeda jauh dengan jaman Suharto. Mungkin orang-orang yang mengeluh ekonomi Suharto lebih enak itu mungkin cuma ingin mengeluh saja?

Luwih murah jamankuFoto dari @yohang88.

 

Blog & Socmed - May 21st, 2013

Narsisisme Melalui Social Media

Social media in real life

Apakah memposting segala sesuatu ke social media itu perilaku narsisisme? Weits nanti dulu. Ingat, ada banyak sekali interaksi di socmed yang tidak kita temukan di dunia nyata. Sesuatu yang narsistik di dunia nyata, belum tentu narsistik di social media. Eric Gilbert dalam papernya menunjukkan contoh seperti ini:

Triad and Room

Gambar sebelah kiri adalah hubungan tiga orang di Twitter, dan gambar sebelah kanan adalah ekivalensinya di dunia nyata. Di dunia nyata, A C dipisahkan kaca, B C dipisahkan cermin satu arah, dan A B dipisahkan tembok. Interaksi seperti itu tidak lazim ada di dunia nyata, tetapi wajar di Twitter.

Menariknya, interaksi di atas baru satu dari 16 jenis interaksi tiga orang (triade) yang dipetakan oleh Ove Frank. Gilbert menemukan beberapa triade lain yang “bermasalah”. Dari keenamnya, Twitter baru memperbaiki triade nomer empat. Dulu kalau Ani dan Cici follow Budi, Ani bisa melihat mention Budi ke Cici, namun tidak melihat balasan Cici ke Budi. Akibatnya ada bagian percakapan yang hilang. Twitter memperbaikinya dengan tidak menampikan twit Budi yang memention Cici.

Triads

Penelitian Gilbert ini baru menyentuh design problem pada triade. Belum ada penelitian yang menyentuh design problem pada interaksi empat, lima, enam, atau tak terhingga orang. Oleh karena itu masih banyak interaksi-interaksi yang belum dikenali.

Jadi, sebetulnya memang wajar jika orang kemudian tidak nyaman masuk ke social media. Selain karena harus melalui medium dan teknologi yang baru, banyak interaksi di dalamnya yang belum pernah kita lihat di dunia nyata. Yang harus ditahan adalah terburu-buru menyimpulkan karakter social media, karena ini adalah dunia baru yang kita semua juga masih meraba-raba.

Peliknya, situs social networking semacam Twitter dan Facebook adalah sistem tertutup. Kita tidak bisa secara kolektif ikut menentukan bentuk interaksi di situs social networking. Semua ada di tangan Twitter dan Facebook. Apakah ini berarti masa depan interaksi manusia ditentukan hanya oleh segelintir perusahaan teknologi?

Life - November 16th, 2012

Jam Matahari Saya Rusak

Jam Matahari Sun Clock

Tinggal di kawasan khatulistiwa seperti Indonesia membuat saya terbiasa mengandalkan matahari untuk menandai waktu. Jika sinar matahari jatuh miring, artinya jam 10 pagi. Matahari tepat di atas kepala artinya jam 12. Matahari mulai terbenam, artinya sudah jam 6: saatnya rehat sejenak, merenggangkan otot, dan masuk ke malam.

Dengan kata lain, matahari adalah jam yang handal.

Akan tetapi, di Boston matahari punya aturannya sendiri. Pada saat musim panas, matahari terbenam pukul 8 malam. Di musim dingin, matahari tenggelam jam 4 sore dan langit gelap saat itu juga. Tiba-tiba, matahari tidak lagi handal untuk menandai waktu.

Saya terbiasa mentargetkan segala sesuatu berdasar matahari. Siang pukul 12, pekerjaan setidaknya sudah setengah jalan menuju selesai. Pada maghrib pukul 6 sore, pekerjaan sudah harus tuntas. Di sini, karena matahari sudah terbenam jam 4, saya sering merasa panik karena tugas kuliah belum selesai padahal hari sudah malam. Padahal, yah, baru jam 4 sore.

Demikian juga saat musim panas. Saya sering mendapati diri bersantai-santai padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dengan kata lain, jam biologis saya sekarang sedang ngaco.

Satu-satunya jalan supaya tidak ngaco, tentu saja memanfaatkan jam tangan untuk melihat waktu.

Politik - November 7th, 2012

Pagi Pemilu Itu di Boston

Queue to Voting Booth US Election Boston

Suhu udara menunjukkan -2º Celcius saat puluhan orang mengantri di luar SMA Chatedral, Boston. Lapangan basket sekolah swasta telah disulap menjadi TPS pemilu. Pagi hari itu, Amerika memilih.

Di antara antrian itu petugas TPS membagikan gelas-gelas kopi panas. Seorang ibu tersenyum saat segelas kopi susu datang menghangatkan tangannya. Dia mengatakan terima kasih. Selain itu, tidak nampak kegembiraan yang meluap-luap. Tidak nampak juga keterpaksaan ikut pemilu. Mereka ikut pemilu karena nasib negaranya ditentukan hari ini.

Banyak hal tentang masa depan Amerika yang akan ditentukan. Jika Romney menang, misalnya, UU jaminan kesehatan universal alias “Obamacare” terancam akan dicabut tahun 2013. Kubu konservatif juga khawatir, karena jika Obama menang maka defisit anggaran negara akan semakin berlarut-larut. Saat ini defisit anggaran mencapai 72% GDPnya.

Vote in Boston

Beberapa pertarungan juga condong ke ideologis. Aborsi, KB, pernikahan sesama jenis, perubahan iklim, adalah isu-isu yang memainkan suara pemilu. Partai Republikan yang condong konservatif, dua bulan terakhir mendapat sorotan karena calegnya mengatakan wanita korban pemerkosaan memiliki mekanisme alamiah untuk mencegah kehamilan. Caleg tersebut pada saat ini menduduki Komisi Sains Senat AS.

Perebutan Senator

Di seberang TPS, sekelompok orang berdiri mengangkat papan-papan kampanye. Seorang ibu paruh baya mengangkat papan bertuliskan “Elizabeth Warren for Senate”. Saya mendekati beliau dan bertanya apakah boleh saya ambil gambarnya. Dengan senyum lebar dia menjawab, “Tentu!”. Ia mengangkat papannya tinggi-tinggi sambil tersenyum lebar ketika kamera menjepretnya.

Elizabeth Warren Senate Election Boston

Pertarungan tidak cuma di tingkat presiden. Setelah dominasinya di DPR tergerus pada pemilihan paruh tahun 2010, Partai Demokrat harus mempertahankan mayoritas di Senat. Elizabeth Warren yang profesor Harvard adalah bidak Partai Demokrat AS untuk tugas penting ini.

Andai Partai Republik merebut dominasi Senat, maka pemerintahan Obama harus berhadapan dengan oposisi dari kedua kamar yang akan mengkritisi semua kebijakannya. Itu jika Obama memenangkan pilpres ini. Jika ternyata pemenangnya adalah Romney, maka ia akan menikmati pemerintahan yang dibacking oleh DPR dan Senat.

Lawan Elizabeth Warren adalah senator Scott Brown yang papan balihonya tidak nampak di TPS Ward 3 Boston.

Kotak Suara

Suhu udara di dalam gedung SMA Katedral lebih hangat 20 derajat, melegakan badan-badan kedinginan yang mengantri di luar. Para pemilih mengantri di depan meja administrasi hingga mendapat giliran masuk ke bilik suara. Bilik suara itu berupa meja aluminium ukuran sedang yang disekat empat. Pemilih menentukan suaranya memakai bolpen.

Voting Booths US Election Boston

Usai memilih, panitia membagian stiker lonjong bertuliskan “I Voted” di samping gambar bendera Amerika yang berkibar. Stiker itu untuk ditempelkan di dada, dan para pemilih mensegerakan diri menyematkan stiker itu pada dada mereka. Mungkin untuk merasa patriotik telah menunaikan tugasnya. Ketika ditanya siapa yang mereka pilih, semua menjawab “Tentu saja Obama” atau “Tentu saja Elizabeth Warren”. Boston memang kotanya partai Demokrat.

Di ujung timur kota Boston, Mitt Romney sedang mempersiapkan panggung besar untuk merayakan kemenangannya. Atau untuk membacakan pidato kekalahannya. TPS baru akan ditutup pukul 7 malam, dan hasil suara nasional baru terkapitulasi pukul 1 pagi waktu timur. Besok pagi, musim kampanye akhirnya usai, dan Amerika harus mengendalikan presidennya siapapun itu yang terpilih.