Semua orang pasti tahu Bohemian Rhapsody-nya Queen yang magnum opusnya Freddy Mercury itu. Jarang saya denger ada lagu rock yang isinya beberapa sub-lagu, salah satu diantaranya operatik pula. Tentang ceritanya, wah penafsirannya bisa macem-macem. Kayaknya sih tentang anak muda yang menembak mati seseorang.
Tidak ada yang bisa menghalangi orang lain beropini, seabsurd apapun opini itu. Ketika Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan kalau seringnya terjadi bencana disebabkan karena akhlak manusia yang semakin rusak, sebetulnya sah-sah saja.
Perkara pernyataan itu kemudian menyebabkan headline konyol di BBC, saya tidak mengeluh karena negara ini sudah membiasakan pendudukanya dengan kekonyolan.
Sesungguhnya ada korelasi langsung atau tak langsung, ada hubungan yang kuat antara musibah fisik dengan musibah moral atau akhlak manusia.
Sering terjadi bencana, sebab akhlak manusia yang telah rusak. Terlalu banyak berbuat maksiyat dan melawan kepada Allah SWT.—Tifatul Sembiring, dari Facebooknya
Perihal fakta bahwa Indonesia terletak pada pertemuan dua lempeng bumi yang sedang tidak stabil, saya malah kurang tahu apakah Menkominfo tahu soal ini.
Permasalahannya, Pak Tifatul adalah orang yang dekat dengan kebijakan. Posisinya di kabinet cukup strategis, apalagi hubungannya dengan PKS yang termasuk fraksi berpengaruh di DPR.
Jika beliau tidak paham penyebab bencana-bencana kemarin ini, bagaimana mungkin dia bisa menangani bencana-bencana yang akan datang?
Dalam tahun-tahun ini penonton dimanjakan dengan film-film gebrakan. Film tidak lagi sekadar laga saja, efek saja, atau cerita saja, tetapi kombinasi yang keren antara ketiganya. Saya tidak mengerti mengapa Wachowsky bersaudara—mereka yang bikin The Matrix—membuat film Ninja Assassin yang biasa-biasa saja.
Ceritanya tidak baru. Raizo (dimainkan oleh Rain) adalah seorang ninja paling top yang memberontak dari klan-nya, lalu mau balas dendam. Setiap beberapa menit ada adegan kelahi yang oke, tapi saya pernah nonton yang lebih mengigit. Akting? Rain sama sekali tidak akting di film ini.
Tidak disarankan untuk mereka yang membayangkan The Matrix atau Kill Bill.
Bella Swan memang memiliki selera romansa yang ekletik. Setelah ditinggal oleh Edward Cullen—pacarnya yang vampir—supaya mereka tidak saling menyakiti (cerita yang familiar sekali), Bella menjadi frustasi. Untunglah ada Jacob Black yang hangat sehingga Bella bisa melupakan Edward (juga sangat familiar). Jacob, yang merupakan penduduk asli desanya Bella, ternyata setali dua uang dengan vampir.
Cewek-cewek—kemungkinan besar—bakal menyukai New Moon karena inilah kisah romans yang susah mereka dapatkan. Cowok-cowok akan membencinya, karena ini adalah kisah romans yang tidak mungkin kami lakukan.
Jika saya boleh jujur, New Moon adalah perbaikan yang lumayan dari Twilight. Memang benar bahwa film ini mengandalkan narasi visual, dan bukan karakter maupun akting, tetapi minusnya adegan heroik dan lebay membuatnya menjadi film yang biasa-biasa saja, bukan film jelek.
Ada banyak hal yang diharapkan masyarakat dalam pernyataan SBY semalam. Pertama adalah menghentikan kasus Bibit-Chandra (entah bagaimana caranya, presiden dan tim ahlinya pasti punya solusi yang lebih baik); dan kedua memberhentikan petinggi-petinggi Polri dan Kejaksaan yang “bermasalah”.
Harapan pertama dipenuhi dengan samar-samar melalui sound bite malam ini:
Opsi lain yang lebih baik yang dapat ditempuh adalah pihak kepolisian dan kejaksaan tidak membawa kasus ini ke pengadilan—detikcom.
Sementara itu, harapan kedua tidak dipenuhi, bahkan secara implistpun. Bayangkan saja ribuan rakyat menonton TV, siap melihat tokoh antagonis dibinasakan, dan tiba-tiba pahlawannya meneriakkan “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh” lalu disambung “Sekian”.
Ada sebuah resiko ketika presiden memberhentikan seorang pejabat karena tidak sesuai dengan kehendaknya, karena akan selamanya itu tercatat dalam sejarah.
Tentu saja, kita memaknai pemberhentian itu dengan pas, karena kita mengerti konteksnya.
Tapi generasi depan tidak. Kejadian ini bisa dimanfaatkan menjadi argumen presiden di tahun-tahun ke depan untuk membenarkan tindakan serupa, tapi dalam dalam konteks yang tidak tepat. Atau lebih buruk lagi: untuk melindungi kepentingannya sendiri.
Tentu saja, presiden masa depan yang baik akan menggunakan preseden itu untuk hal bagus, tetapi apakah tidak ada jalan lain yang lebih aman? Seperti misalnya melakukan pendekatan balik layar ke kejaksaan/polri untuk menghentikan kasus ini sehingga sejarah mencatat Kejasaan atau Polri menghentikan kasus ini karena buktinya kurang.
Saya senang sekali dalam hari-hari ini, karena tiba-tiba masyarakat begitu peduli mengikuti proses hukum negara ini.
Tentu saja, nantinya—pelan-pelan—kasus ini akan dikupas, dan—pelan-pelan—akan semakin pedih. Beberapa dari kita mungkin akan kecewa dengan hasilnya, karena bisa saja ini tidak sehitam-putih yang kita kira; atau minimal orang-orang ternyata tidak berlaku hitam putih.
Tapi nggak masalah, bahwa kita semua jadi terlibat dalam proses politik ini adalah sebuah sekolah penting bagi bayi demokrasi gendut bernama Indonesia.
The Greatest Concert That Never Was—konser terhebat yang tidak akan pernah dipentaskan.
Ada rasa miris ketika melihat “Michael Jackson This is it” di bioskop: konser ini telah disiapkan dengan sempurna dan terpaksa harus batal lantaran bintang utamanya Michael Jackson menemui ajalnya pada tanggal 25 Juni lalu. Melalui teknik editing yang rapih, sang Sutradara Kenny Ortega mengemas potongan-potongan rekaman gladi bersih MJ menjadi seperti sebuah konser betulan.
Tentu saja gladi bersihnya tidak sempurna 100%, tapi untuk seniman sekaliber MJ, tampil 40% saja sudah bagus banget. Dan apa ya … gerakannya enteng dan tarikan suaranya natural, bukan hasil hapalan.
Gayanya mengarahkan tim-nya juga bisa menjadi sorotan khusus, MJ cenderung menggunakan kata sederhana untuk mengarahkan timnya. Seperti ketika mengarahkan music directornya dalam menggarap The Way You Make Me Feel, MJ berkata “let it [the music] simmer”—biarkan musiknya matang pelan-pelan—maksudnya temponya jangan terburu-buru dinaikkan.
Kalau Anda suka lagu-lagunya Michael Jackson, ini adalah konser farewell terakhir dia. Sedih memang harus kehilangan musiknya, apalagi melihat stamina Michael yang nampak kurang tenaga di bagian-bagian akhir film ini.
I regard that mind is meant to be free and moving mind to mass is a destiny. I can be geeky when it comes to movies, art and culinary, but really, I am simply a man with an irregularity, or many.Continue »