
Obama nampak membuang muka, sementara Mitt Romney dari partai Republikan melemparkan serangan-serangan jitu. Pada malam debat pilpres di Denver, Romney tiba-tiba bersinar dan Obama meredup. Akan tetapi yang terburuk datang seminggu kemudian.
Setelah Obama memimpin jajak pendapat di atas 3% selama berbulan-bulan, pada tanggal 10 Oktober angka-angka polling berbalik menjagokan Romney. Untuk pertama kalinya, Romney memimpin 3% di atas Obama. Tiba-tiba ia menjadi calon presiden yang harus dipertimbangkan.
Perjalanan Romney menuju gedung putih bukanlah jalan yang mulus. Selama berbulan-bulan ia menjadi sorotan karena menolak menunjukan perhitungan pajaknya. Bulan Juli dia mengatakan London tidak siap menjadi tuan rumah Olimpiade, sehingga membuat sekutu dekat AS naik pitam. Bulan Agustus, pidato pencalonannya di konvensi Partai Republikan tidak berhasil menggenjot angka jajak pendapat. Yang terburuk adalah video pidato Romney yang direkam sembunyi-sembunyi. Dalam video itu Romney berpidato di ruangan tertutup, mengatakan bahwa ia tidak peduli 47% warga Amerika.
Obama, di lain sisi, menikmati bulan Juli dan Agustus yang indah. Walaupun kondisi perekonomian AS masih belum membaik—tingkat pengangguran masih di atas 8%—hasil jajak pendapat nampak lebih mempercayai Obama. Pidatonya di konvensi partai Demokrat tidak mengelegar seperti tahun 2008. Namun pidato ibu negara Michelle Obama dan orasi Bill Clinton sukses membakar massa pendukungnya.
Denver
Denver adalah titik balik. Romney yang selama ini digambarkan sebagai investor kaya raya dan pionir outsourcing ke Cina, tiba-tiba muncul sebagai sosok yang peduli terhadap rakyat kecil Amerika. Argumen Obama yang kompleks: jaminan kesehatan, aborsi, subsidi, energi alternatif, keringanan pajak, pendidikan; mentah oleh janji Romney yang sangat sederhana. Romney menjanjikan pekerjaan bagi rakyat Amerika.
Beberapa janji Romney memang seperti melenceng dari sikap konservatifnya pada awal kampanye. New York Times mengatakan perubahan Romney beresiko membuat pemilih mempertanyakan konsistensi dan keaslian sikapnya.
Kubu Obama berusaha menahan laju popularitas Romney dengan menembakkan iklan-iklan negatif di udara. Di Ohio, yang diprediksi akan menjadi penentu kemenangan pilpres AS, Obama menghabiskan dana 62 juta dolar untuk membeli slot iklan tv. Kubu Romney menghabiskan 65 juta dolar. Di skala nasional, Obama membeli 347 juta dolar di mana 85% diantaranya adalah iklan negatif. Romney menghabiskan 386 juta dolar dan 91% dipakai untuk iklan negatif.
Libya
Pada debat kedua di New York, Obama tampil agresif menyerang Romney. Obama menyerang Romney yang tidak konsisten dan tidak rinci memaparkan rencana ekonominya. Romney menyerang pemerintahan Obama yang gagal mengangkat lapangan kerja. Puncaknya terjadi ketika debat menyentuh serangan di kedutaan AS di Libya.
Berdiri di depan Obama, Romney menudingkan telunjuknya dan mengatakan Obama gagal mengidentifikasi bahwa serangan tersebut adalah tindakan terorisme. Sebelum Romney menyelesaikan kalimatnya, Obama memotong. “Saya mengatakan itu adalah aksi teror.”
Romney tampak terkejut.
Dan sebelum Romney bisa melanjutkan bantahannya, moderator Candy Crowley memotong, “Sebetulnya ia [Obama] mengatakan bahwa itu adalah aksi teror.” Suara tawa hadirin terdengar sayup-sayup.
Sandy
Walaupun pengamat menilai Obama memenangkan debat kedua, namun polling tidak bisa kembali pada angka sebelum debat Denver. Obama hanya bisa mengerem Romney, tapi tidak bisa lagi memimpin jajak pendapat. Debat ketiga dan terakhir di Florida juga tidak mampu membalik polling Romney yang selalu memimpin di 1 persen.
Hingga kemudian datanglah Hurricane Sandy.
Obama menghentikan kampanyenya selama 3 hari untuk fokus menangani badai Sandy.
Chris Christie, Gubernur New Jersey—negara bagian yang terkena dampak paling parah dari badai Sandy, memuji kesigapan Obama dalam memutus rantai birokrasi penanganan bencana. Christie adalah gubernur dari partai Republikan dan juga suporter Mitt Romney. Walikota New York, Michael Bloomberg, juga memberikan endorsement kepada Obama. Bloomberg mengatakan bahwa intensitas badai Sandy adalah salah satu akibat dari perubahan iklim, dan Obama adalah calon presiden yang lebih peduli terhadap perubahan iklim.
Pengamat statistik politik Nate Silver, mengatakan bahwa studi ilmiah belum bisa menjawab apakah bencana alam berpengaruh terhadap pilpres. Namun, sejak badai Sandy, polling memang berbalik mendukung Obama, walaupun hanya berbalik tipis.
6 November
Hingga 5 November, polling belum bisa menjawab siapakah yang akan menjadi presiden AS hingga tahun 2016. Kebanyakan polling hanya menempatkan Obama 1% di atas Romney. Angka ini masih di dalam margin of error, sehingga kedua kandidat berpeluang memenangkan kontes kepresidenan AS.
Polling di tingkat negara bagian juga menunjukkan pertarungan yang ketat. Sehari sebelum hari pemungutan suara, Real Clear Politics menunjukkan bahwa Obama memimpin dengan mengumpulkan 201 suara negara bagian, sementara Romney tertinggal di angka 191. Untuk memenangkan pilpres, seorang kandidat harus mengumpulkan 270 dari 538 suara negara bagian. Dengan demikian, pilpres 2012 ini ditentukan hanya oleh 12 negara bagian yang pertarungan suaranya masih ketat.
Jika Romney dan Obama sama-sama memperoleh 269 suara negara bagian, maka presiden akan dipilih oleh DPR AS (yang dikuasai oleh partai Republikan) sementara wakil presiden akan dipilih oleh Senat AS (yang dikuasai oleh Demokrat).
Dengan demikian bukan tidak mungkin Amerika akan dipimpin oleh Mitt Romney dan Joe Biden—wakil presiden Obama.