hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

May 8, 2008

Tiga Krisis

Badai

Bersiaplah kawan. Tiga badai bergerak semakin dekat.

Pertama, adalah naiknya beban subsidi minyak yang menggerus APBN. Konon, solusinya adalah menaikkan harga BBM, dan biasanya harga yang lain juga ikutan naik. Orang-orang jadi lebih miskin.

Kedua, adalah krisis pangan. Harga bahan pokok semakin meroket, ada yang sampai 200%.

Ketiga, krisis keuangan Amerika Serikat yang ikut berdampak pada perekonomian Indonesia.

Dalam situasi tanpa kepastian ini, kebijakan pemerintah belum banyak yang terasa cespleng. Sementara itu, si lajur pacuan sebelah, tokoh-tokoh daur ulang seperti Wiranto, Sutiyoso, dan Prabowo mulai meraih popularitas untuk Pemilu 2009 .

Sepuluh tahun yang lalu, kita juga menyaksikan ekonomi Indonesia jatuh terpelanting. Harga makanan pokok naik drastis, menjadi langka, dan akibatnya masyarakat ngamuk. Tetapi, dari sana, sebuah rezim jatuh, dan demokrasi bangkit sedikit-demi sedikit. Sebuah capaian yang harus dibayar mahal.

Entah apa yang terjadi kalau krisis kembali menghajar negara miskin ini. Apakah mungkin demokrasi jatuh, dan totalitarian bangkit?

*Ini Indonesia Bung! Tiap hari adalah kejutan*

May 5, 2008

Juno

Juno
Ketika bicara film tentang kehamilan di luar nikah, maka pikiran akan mengidentikkan dengan tragedi dan drama yang mendayu-dayu.

Tidak demikian dengan Juno, film tentang gadis SMA umur 17 tahun yang hamil di luar nikah. Terbukti bahwa topik semacam ini tidak harus berakhir menjadi drama teater cengeng seperti sinetron. Dengan alur cerita yang alami, Juno tetap menggoda untuk ditonton karena dijalin oleh dialog dan rekonstruksi nilai yang cerdas.

Di akhir cerita, kita belajar bahwa menjadi tidak standar itu bisa baik-baik saja.

May 4, 2008

Tanpa Adsense, Blogpun Bernilai

Apakah iklan diatas maksudnya:
Daripada main adsense setahun cuma dapat sejuta, mending ikut lomba live blogging di NIX Jogja tanggal 7 Mei '08 besok? Hadiah utama 2 juta. Hadiah total 5 juta.
Oh tidak.

Maksudnya: ikutlah lomba liveblogging. Kalau hoki, bisa buat modal main adsense. Itu kalau main adsense lho. Kalau suka main gadget, ya mayan lah ada duit buat utak-atik gadget. Kalau main di tempat nongkrong, mayan ada modal buat traktir temen. Agak repot kalau suka main mata. Tapi mata kambing masih terbeli kok.

Kalau kalah, yah, tidak semua orang beruntung tiap harinya bukan? Setidaknya bisa ketemu blogger lain seperti Tikabanget, Medina, Antobilang, Fany, Leksa, Eko, Goen, dan tak lupa: Pangsit yang lucu.

Nah info lebih lengkap, sila bertandang ke kompetisi.cahandong.org.

Apr 29, 2008

Terlalu Banyak Film Indonesia

film indonesia kacangan

Sampai kapankah film Indonesia kacangan harus membanjiri cineplex? Hari ini di Jogja, dari 5 studio, 3 diantaranya adalah film-film Indonesia tidak orisinil yang terasa hendak meraih keuntungan cekak semata. Namaku Dick? Extra Large? Tali Pocong Perawan? Hantu Ambulance?

Permasalahannya bukan pada saya tidak ingin memberi kesempatan film Indonesia. Saya sudah.

Permasalahannya, sudahkah kesempatan yang saya berikan dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku industri ini?

Mendaur ulang cerita horor dan komedi porno dan roman picisan tidak menunjukkan kesungguhan sama sekali.

Apr 28, 2008

Facial Tengkleng

Tengkleng Kambing
Hari kemarin, Ibu saya bertandang ke Solo dan pulang membawa tengkleng. Seperti wong Solo selalu bilang, makanan Sala enak-enak, termasuk diantaranya: tengkleng.

Suapan pertama terasa enak. Bumbunya enteng dan santannya ringan. Dagingnya empuk penuh rasa, tapi tetap liat dan tidak sepo. Cocok banget dimakan pake nasi pulen. Di sudut mangkok ada bulat-bulat, ah mungkin ini torpedo kambing. Saya coba ulik daging itu...

Dan ternyata itu adalah bola mata kambing!

OMG. Dan setelah tengkleng itu diaduk-aduk lagi, ternyata yang saya makan adalah rahang kambing beserta gigi-giginya (yang semestinya tidak pernah gosok gigi).

Bener, saya tidak masalah memakan organ. Tapi makan wajah kambing? Ewwww. Priceless?



Gambar pinjam dari postingan di Wikimu. Tengkleng yang saya makan bukan tengkleng yang dibahas di Wikimu.