hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Indonesiana - May 21st, 2013

Suharto: Masih enak jamanku kan?

Suharto-Isih penak jamanku

Sejak 15 tahun lalu Suharto turun tahta, beberapa kali saya bertemu dengan orang-orang yang merindukan kondisi ekonomi jaman Suharto, dan menyesalkan kondisi jaman sekarang yang lebih buruk. Tapi apakah benar hidup di jaman Suharto lebih enak? Saya mencoba mengumpulkan data-datanya:

  • Dolar lebih murah di jaman Suharto. Sebelum krisis moneter, nilai tukar dolar cuma Rp 2000. Akan tetapi pada saat krisis moneter, dolar mencapai Rp 16.000 di jaman Suharto.
  • Harga barang lebih murah di jaman Suharto. Menurut Deptan, harga beras di perkotaan pada tahun 1998 memang hanya Rp 958/kg, tapi pada jaman itu nilai UMR rata-rata cuma Rp 153.000. Sekarang harga beras memang naik sekitar 10 kali lipat jadi Rp 9000, akan tetapi UMR rata-rata juga naik sekitar 10 kali lipat: Rp 1.434.000.
  • Cari pekerjaan lebih gampang di jaman Suharto. Angka pengangguran 1998 saat Suharto ada di 5,46%. Angka pengangguran 2013, lima belas tahun kemudian ada di 5,92%.

Dari angka-angka tersebut, nampaknya situasi ekonomi jaman sekarang tidak berbeda jauh dengan jaman Suharto. Saya menduga orang-orang yang mengeluh ekonomi Suharto lebih enak itu mungkin cuma ingin mengeluh saja.

Luwih murah jamankuFoto dari @yohang88.

 

Blog & Socmed - May 21st, 2013

Narsisisme Melalui Social Media

Social media in real life

Apakah memposting segala sesuatu ke social media itu perilaku narsisisme? Weits nanti dulu. Ingat, ada banyak sekali interaksi di socmed yang tidak kita temukan di dunia nyata. Sesuatu yang narsistik di dunia nyata, belum tentu narsistik di social media. Eric Gilbert dalam papernya menunjukkan contoh seperti ini:

Triad and Room

Gambar sebelah kiri adalah hubungan tiga orang di Twitter, dan gambar sebelah kanan adalah ekivalensinya di dunia nyata. Di dunia nyata, A C dipisahkan kaca, B C dipisahkan cermin satu arah, dan A B dipisahkan tembok. Interaksi seperti itu tidak lazim ada di dunia nyata, tetapi wajar di Twitter.

Menariknya, interaksi di atas baru satu dari 16 jenis interaksi tiga orang (triade) yang dipetakan oleh Ove Frank. Gilbert menemukan beberapa triade lain yang “bermasalah”. Dari keenamnya, Twitter baru memperbaiki triade nomer empat. Dulu kalau Ani dan Cici follow Budi, Ani bisa melihat mention Budi ke Cici, namun tidak melihat balasan Cici ke Budi. Akibatnya ada bagian percakapan yang hilang. Twitter memperbaikinya dengan tidak menampikan twit Budi yang memention Cici.

Triads

Penelitian Gilbert ini baru menyentuh design problem pada triade. Belum ada penelitian yang menyentuh design problem pada interaksi empat, lima, enam, atau tak terhingga orang. Oleh karena itu masih banyak interaksi-interaksi yang belum dikenali.

Jadi, sebetulnya memang wajar jika orang kemudian tidak nyaman masuk ke social media. Selain karena harus melalui medium dan teknologi yang baru, banyak interaksi di dalamnya yang belum pernah kita lihat di dunia nyata. Yang harus ditahan adalah terburu-buru menyimpulkan karakter social media, karena ini adalah dunia baru yang kita semua juga masih meraba-raba.

Peliknya, situs social networking semacam Twitter dan Facebook adalah sistem tertutup. Kita tidak bisa secara kolektif ikut menentukan bentuk interaksi di situs social networking. Semua ada di tangan Twitter dan Facebook. Apakah ini berarti masa depan interaksi manusia ditentukan hanya oleh segelintir perusahaan teknologi?

Life - November 16th, 2012

Jam Matahari Saya Rusak

Jam Matahari Sun Clock

Tinggal di kawasan khatulistiwa seperti Indonesia membuat saya terbiasa mengandalkan matahari untuk menandai waktu. Jika sinar matahari jatuh miring, artinya jam 10 pagi. Matahari tepat di atas kepala artinya jam 12. Matahari mulai terbenam, artinya sudah jam 6: saatnya rehat sejenak, merenggangkan otot, dan masuk ke malam.

Dengan kata lain, matahari adalah jam yang handal.

Akan tetapi, di Boston matahari punya aturannya sendiri. Pada saat musim panas, matahari terbenam pukul 8 malam. Di musim dingin, matahari tenggelam jam 4 sore dan langit gelap saat itu juga. Tiba-tiba, matahari tidak lagi handal untuk menandai waktu.

Saya terbiasa mentargetkan segala sesuatu berdasar matahari. Siang pukul 12, pekerjaan setidaknya sudah setengah jalan menuju selesai. Pada maghrib pukul 6 sore, pekerjaan sudah harus tuntas. Di sini, karena matahari sudah terbenam jam 4, saya sering merasa panik karena tugas kuliah belum selesai padahal hari sudah malam. Padahal, yah, baru jam 4 sore.

Demikian juga saat musim panas. Saya sering mendapati diri bersantai-santai padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dengan kata lain, jam biologis saya sekarang sedang ngaco.

Satu-satunya jalan supaya tidak ngaco, tentu saja memanfaatkan jam tangan untuk melihat waktu.

Politik - November 7th, 2012

Pagi Pemilu Itu di Boston

Queue to Voting Booth US Election Boston

Suhu udara menunjukkan -2º Celcius saat puluhan orang mengantri di luar SMA Chatedral, Boston. Lapangan basket sekolah swasta telah disulap menjadi TPS pemilu. Pagi hari itu, Amerika memilih.

Di antara antrian itu petugas TPS membagikan gelas-gelas kopi panas. Seorang ibu tersenyum saat segelas kopi susu datang menghangatkan tangannya. Dia mengatakan terima kasih. Selain itu, tidak nampak kegembiraan yang meluap-luap. Tidak nampak juga keterpaksaan ikut pemilu. Mereka ikut pemilu karena nasib negaranya ditentukan hari ini.

Banyak hal tentang masa depan Amerika yang akan ditentukan. Jika Romney menang, misalnya, UU jaminan kesehatan universal alias “Obamacare” terancam akan dicabut tahun 2013. Kubu konservatif juga khawatir, karena jika Obama menang maka defisit anggaran negara akan semakin berlarut-larut. Saat ini defisit anggaran mencapai 72% GDPnya.

Vote in Boston

Beberapa pertarungan juga condong ke ideologis. Aborsi, KB, pernikahan sesama jenis, perubahan iklim, adalah isu-isu yang memainkan suara pemilu. Partai Republikan yang condong konservatif, dua bulan terakhir mendapat sorotan karena calegnya mengatakan wanita korban pemerkosaan memiliki mekanisme alamiah untuk mencegah kehamilan. Caleg tersebut pada saat ini menduduki Komisi Sains Senat AS.

Perebutan Senator

Di seberang TPS, sekelompok orang berdiri mengangkat papan-papan kampanye. Seorang ibu paruh baya mengangkat papan bertuliskan “Elizabeth Warren for Senate”. Saya mendekati beliau dan bertanya apakah boleh saya ambil gambarnya. Dengan senyum lebar dia menjawab, “Tentu!”. Ia mengangkat papannya tinggi-tinggi sambil tersenyum lebar ketika kamera menjepretnya.

Elizabeth Warren Senate Election Boston

Pertarungan tidak cuma di tingkat presiden. Setelah dominasinya di DPR tergerus pada pemilihan paruh tahun 2010, Partai Demokrat harus mempertahankan mayoritas di Senat. Elizabeth Warren yang profesor Harvard adalah bidak Partai Demokrat AS untuk tugas penting ini.

Andai Partai Republik merebut dominasi Senat, maka pemerintahan Obama harus berhadapan dengan oposisi dari kedua kamar yang akan mengkritisi semua kebijakannya. Itu jika Obama memenangkan pilpres ini. Jika ternyata pemenangnya adalah Romney, maka ia akan menikmati pemerintahan yang dibacking oleh DPR dan Senat.

Lawan Elizabeth Warren adalah senator Scott Brown yang papan balihonya tidak nampak di TPS Ward 3 Boston.

Kotak Suara

Suhu udara di dalam gedung SMA Katedral lebih hangat 20 derajat, melegakan badan-badan kedinginan yang mengantri di luar. Para pemilih mengantri di depan meja administrasi hingga mendapat giliran masuk ke bilik suara. Bilik suara itu berupa meja aluminium ukuran sedang yang disekat empat. Pemilih menentukan suaranya memakai bolpen.

Voting Booths US Election Boston

Usai memilih, panitia membagian stiker lonjong bertuliskan “I Voted” di samping gambar bendera Amerika yang berkibar. Stiker itu untuk ditempelkan di dada, dan para pemilih mensegerakan diri menyematkan stiker itu pada dada mereka. Mungkin untuk merasa patriotik telah menunaikan tugasnya. Ketika ditanya siapa yang mereka pilih, semua menjawab “Tentu saja Obama” atau “Tentu saja Elizabeth Warren”. Boston memang kotanya partai Demokrat.

Di ujung timur kota Boston, Mitt Romney sedang mempersiapkan panggung besar untuk merayakan kemenangannya. Atau untuk membacakan pidato kekalahannya. TPS baru akan ditutup pukul 7 malam, dan hasil suara nasional baru terkapitulasi pukul 1 pagi waktu timur. Besok pagi, musim kampanye akhirnya usai, dan Amerika harus mengendalikan presidennya siapapun itu yang terpilih.

Politik - November 5th, 2012

Apakah Obama akan terpilih menjadi presiden AS?

Obama Romney Debat Presiden AS

Obama nampak membuang muka, sementara Mitt Romney dari partai Republikan melemparkan serangan-serangan jitu. Pada malam debat pilpres di Denver, Romney tiba-tiba bersinar dan Obama meredup. Akan tetapi yang terburuk datang seminggu kemudian.

Setelah Obama memimpin jajak pendapat di atas 3% selama berbulan-bulan, pada tanggal 10 Oktober angka-angka polling berbalik menjagokan Romney. Untuk pertama kalinya, Romney memimpin 3% di atas Obama. Tiba-tiba ia menjadi calon presiden yang harus dipertimbangkan.

Perjalanan Romney menuju gedung putih bukanlah jalan yang mulus. Selama berbulan-bulan ia menjadi sorotan karena menolak menunjukan perhitungan pajaknya. Bulan Juli dia mengatakan London tidak siap menjadi tuan rumah Olimpiade, sehingga membuat sekutu dekat AS naik pitam. Bulan Agustus, pidato pencalonannya di konvensi Partai Republikan tidak berhasil menggenjot angka jajak pendapat. Yang terburuk adalah video pidato Romney yang direkam sembunyi-sembunyi. Dalam video itu Romney berpidato di ruangan tertutup, mengatakan bahwa ia tidak peduli 47% warga Amerika.

Obama, di lain sisi, menikmati bulan Juli dan Agustus yang indah. Walaupun kondisi perekonomian AS masih belum membaik—tingkat pengangguran masih di atas 8%—hasil jajak pendapat nampak lebih mempercayai Obama. Pidatonya di konvensi partai Demokrat tidak mengelegar seperti tahun 2008. Namun pidato ibu negara Michelle Obama dan orasi Bill Clinton sukses membakar massa pendukungnya.

Denver

Denver adalah titik balik. Romney yang selama ini digambarkan sebagai investor kaya raya dan pionir outsourcing ke  Cina, tiba-tiba muncul sebagai sosok yang peduli terhadap rakyat kecil Amerika. Argumen Obama yang kompleks: jaminan kesehatan, aborsi, subsidi, energi alternatif, keringanan pajak, pendidikan; mentah oleh janji Romney yang sangat sederhana. Romney menjanjikan pekerjaan bagi rakyat Amerika.

Beberapa janji Romney memang seperti melenceng dari sikap konservatifnya pada awal kampanye. New York Times mengatakan perubahan Romney beresiko membuat pemilih mempertanyakan konsistensi dan keaslian sikapnya.

Kubu Obama berusaha menahan laju popularitas Romney dengan menembakkan iklan-iklan negatif di udara. Di Ohio, yang diprediksi akan menjadi penentu kemenangan pilpres AS, Obama menghabiskan dana 62 juta dolar untuk membeli slot iklan tv. Kubu Romney menghabiskan 65 juta dolar. Di skala nasional, Obama membeli 347 juta dolar di mana 85% diantaranya adalah iklan negatif. Romney menghabiskan 386 juta dolar dan 91% dipakai untuk iklan negatif.

Libya

Pada debat kedua di New York, Obama tampil agresif menyerang Romney. Obama menyerang Romney yang tidak konsisten dan tidak rinci memaparkan rencana ekonominya. Romney menyerang pemerintahan Obama yang gagal mengangkat lapangan kerja. Puncaknya terjadi ketika debat menyentuh serangan di kedutaan AS di Libya.

Berdiri di depan Obama, Romney menudingkan telunjuknya dan mengatakan Obama gagal mengidentifikasi bahwa serangan tersebut adalah tindakan terorisme. Sebelum Romney menyelesaikan kalimatnya, Obama memotong. “Saya mengatakan itu adalah aksi teror.”

Romney tampak terkejut.

Dan sebelum Romney bisa melanjutkan bantahannya, moderator Candy Crowley memotong, “Sebetulnya ia [Obama] mengatakan bahwa itu adalah aksi teror.” Suara tawa hadirin terdengar sayup-sayup.

Sandy

Walaupun pengamat menilai Obama memenangkan debat kedua, namun polling tidak bisa kembali pada angka sebelum debat Denver. Obama hanya bisa mengerem Romney, tapi tidak bisa lagi memimpin jajak pendapat. Debat ketiga dan terakhir di Florida juga tidak mampu membalik polling Romney yang selalu memimpin di 1 persen.

Hingga kemudian datanglah Hurricane Sandy.

Obama menghentikan kampanyenya selama 3 hari untuk fokus menangani badai Sandy.

Chris Christie, Gubernur New Jersey—negara bagian yang terkena dampak paling parah dari badai Sandy, memuji kesigapan Obama dalam memutus rantai birokrasi penanganan bencana. Christie adalah gubernur dari partai Republikan dan juga suporter Mitt Romney. Walikota New York, Michael Bloomberg, juga memberikan endorsement kepada Obama. Bloomberg mengatakan bahwa intensitas badai Sandy adalah salah satu akibat dari perubahan iklim, dan Obama adalah calon presiden yang lebih peduli terhadap perubahan iklim.

Pengamat statistik politik Nate Silver, mengatakan bahwa studi ilmiah belum bisa menjawab apakah bencana alam berpengaruh terhadap pilpres. Namun, sejak badai Sandy, polling memang berbalik mendukung Obama, walaupun hanya berbalik tipis.

6 November

Hingga 5 November, polling belum bisa menjawab siapakah yang akan menjadi presiden AS hingga tahun 2016. Kebanyakan polling hanya menempatkan Obama 1% di atas Romney. Angka ini masih di dalam margin of error, sehingga kedua kandidat berpeluang memenangkan kontes kepresidenan AS.

Polling di tingkat negara bagian juga menunjukkan pertarungan yang ketat. Sehari sebelum hari pemungutan suara, Real Clear Politics menunjukkan bahwa Obama memimpin dengan mengumpulkan 201 suara negara bagian, sementara Romney tertinggal di angka 191. Untuk memenangkan pilpres, seorang kandidat harus mengumpulkan 270 dari 538 suara negara bagian. Dengan demikian, pilpres 2012 ini ditentukan hanya oleh 12 negara bagian yang pertarungan suaranya masih ketat.

Jika Romney dan Obama sama-sama memperoleh 269 suara negara bagian, maka presiden akan dipilih oleh DPR AS (yang dikuasai oleh partai Republikan) sementara wakil presiden akan dipilih oleh Senat AS (yang dikuasai oleh Demokrat).

Dengan demikian bukan tidak mungkin Amerika akan dipimpin oleh Mitt Romney dan Joe Biden—wakil presiden Obama.

Life - October 4th, 2012

Di Tempat Baru

Di tempat baru, kita tak ada pilihan selain menjalani hal-hal baru yang sebetulnya asing. Beberapa menyenangkan, beberapa memusingkan. Pembayaran yang serba memakai cek, padahal buku cek baru datang minggu depan, sukses bikin deg-deg-an. Belum lagi ATM yang ternyata tidak bisa dipakai buat transfer. Perbankan di Amerika sedikit aneh bagi orang Indonesia seperti saya, tapi saya rasa aneh itu ada alasannya.

Yang lebih sulit adalah ketika harus membawa diri ke orang Amerika. Orang Boston nampak selalu menjaga jarak, bersalaman hanya ketika kenalan. Sesudahnya, perpisahan dan pertemuan cukup ditandai dengan lambaian tangan sambil berkata “Hi” atau “Bye”. Tidak ada yang salah tentunya, hanya berbeda.

Perbedaan demi perbedaan itu salah satu penyebab pendatang tidak kerasan. Dalam banyak kejadian, pendatang membawa serta banyak dari rumah mereka supaya perbedaan di tempat baru tidak terlalu mencolok. Ini bukan sifat Asia, saya rasa. Para turis bule yang datang bermil-mil ke Vietnam, memilih untuk ngebir di bar-bar Saigon pada malam harinya, bersama bule-bule lainnya. Walaupun begitu, ini juga tidak salah.

Akan tetapi, saya mendapati ini bukan cara yang paling tepat untuk memaksimalkan pengalaman baru. Ketika kita berada di tempat baru, di tengah-tengah kerumunan orang yang asing dengan gerak-gerik ganjil, cara terbaik rupanya adalah menyerap untuk mengetahui mengapa mereka begitu unik. Tanpa bermaksud lebay, tapi dunia kian hari memang semakin kecil. Kita tidak punya pilihan selain menjadi warga dunia—cepat atau lambat. Mudah-mudahan, semakin banyak potongan-potongan dunia yang kita pahami tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tapi juga menguntungkan komunitas kita.

Begitulah. Saya belum memutuskan apa-apa. Cuma menulis untuk menandai blog ini, bahwa di sini baik-baik saja.